Serunya Pertunjukan Panggung Boneka Penyadartahuan Konservasi Maleo

  • 17 Nov 2024 01:05 WIB
  •  Gorontalo

KBRN, Gorontalo : Puluhan siswa dari dua lembaga pendidikan, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Al-Ishlah dan Brillikids, bersemangat menikmati pertunjukan di Panggung Boneka pada Festival Maleo Gorontalo 2024. Mereka datang untuk lebih mengenal kehidupan satwa liar yang ada di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), dan salah satu metode yang digunakan dalam pengenalan ini adalah melalui cerita panggung boneka.


Panggung boneka ini dikelola oleh TNBNW sebagai sarana edukasi, menggabungkan unsur hiburan dan pembelajaran. Cerita yang dibawakan dengan menggunakan boneka dimainkan oleh sejumlah orang di dalam panggung, memberikan pengalaman yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak.


Sebelum pertunjukan dimulai, Dini Rahmanita, staf TNBNW, memberi pengantar kepada para siswa. Ia juga mengenalkan para pemain dan boneka yang akan tampil dalam cerita.


“Kami membangun alur cerita yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Panggung boneka menjadi alternatif media kampanye penyadartahuan konservasi yang efektif, terutama untuk anak-anak usia dini (TK hingga SD),” kata Dini Rahmanita, Sabtu (16/11/2024).


Melalui panggung boneka ini, anak-anak diberi pengetahuan tentang pentingnya menjaga alam dan satwa liar. Salah satu hal yang menarik perhatian mereka adalah cerita tentang konflik antara pemburu dan satwa liar.


Aris Setyawan, penyuluh kehutanan Balai TNBNW, menceritakan bagaimana interaksi anak-anak dengan alur cerita yang dipentaskan. “Banyak anak yang larut dalam cerita. Saat konflik antara pemburu dan satwa meningkat, mereka merasa sangat emosi dan membela satwa yang terancam bahaya. Mereka berteriak memberi tahu boneka untuk segera lari menghindari pemburu. Anak-anak terlihat lega saat polisi kehutanan datang menangkap pemburu,” ujar Aris.


Panggung boneka ini memberikan pesan konservasi yang efektif melalui media audio visual yang atraktif. Pertunjukan ini mampu menarik perhatian siswa dan membuat mereka lebih fokus, sehingga pesan tentang pelestarian satwa liar dan lingkungan dapat diterima dengan baik.


“Dari pertunjukan ini, kami melihat antusiasme anak-anak. Mereka sangat terlibat dalam cerita, terutama ketika melihat predator atau pemburu yang mengancam satwa, seperti telur burung maleo. Mereka spontan berteriak, 'Jangaaaan!' dan terlihat senang saat maleo bercengkerama dengan sahabatnya, rangkong,” tambah Aris Setyawan.


Panggung boneka ini dimainkan oleh para pegawai dan ibu-ibu Darma Wanita Persatuan Balai TNBNW, dengan peran-peran yang sangat beragam: Dini Rahmanita sebagai narator, Hendra Dwi Purnama sebagai Maleo, Amal Hidayat sebagai Rangkong dan Kepala Desa, Aris Setyawan sebagai petugas Balai TNBNW dan anjing, Fendi Saputra sebagai pemburu dan ular, Indarwati sebagai penjual burung maleo, Siti Masruroh sebagai pembeli burung maleo, dan Zaenal Arifin sebagai badut maleo, maskot festival.


Meskipun zaman kini dipenuhi dengan berbagai media hiburan digital, panggung boneka tetap menjadi media yang efektif dan memikat untuk mengedukasi anak-anak. Banyak generasi tumbuh dari tontonan ini yang memberikan nilai-nilai positif dalam pembentukan karakter mereka.


Festival Maleo Gorontalo 2024 berlangsung dari Jumat hingga Minggu, 15-17 November 2024, di Danau Perintis, Kabupaten Bone Bolango. Festival ini dikelola secara kolaboratif oleh Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Bone Bolango, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program, Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA), dan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS).


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....