Takziah ke Tanah Kusir, Catatan Syafaruddin DaEng Usman

  • 07 Des 2025 10:21 WIB
  •  Pontianak

Alhamdulillah ...

Kemarin saya menziarahi sejumlah makam di TPU Tanah Kusir. Terutama di Blok 48.

Mulanya di pusara Bung Hatta dan Ibu Rahmi. Pusara yang mengingatkan keluhuran seorang tokoh pemberi keteladanan.

Di belakang makam sepasang insan harmonis itu, tidak dalam satu atap, ada tiga makam lain. Salah satu cucu Bung Hata, dan dua makam pasangan sespri Beliau. Makam suami istri HI Wangsa Wijaya.

Saya berjalan di luar pagar lima pusara itu. Tak jauh, dengan papan penjelasan yang cukup mudah membacanya: Makam Pahlawan Nasional Prof Dr HAMKA.

Di bawah kerimbunan pohon kenanga, dengan tiang dan bendera merah putih di dekatnya, Buya Hamka dimakamkan. Berdampingan pula istri dan anak beliau. Hj Situ Raham dan H Rusjdi HAMKA, dalam satu luang lahat.

Hamka, serupa juga Bung Hatta, adalah tokoh dunia. Hamka ulama dan sastrawan terkemuka. Hatta ekonom ternama juga salah seorang proklamator bersama Bung Karno.

Selepas takzim di samping pusara Buya Hamka, saya berjalan perlahan. Melintasi tak berhingga jumlah nisan, tanda ribuan (untuk mudah menyebut hitungan tak sedikit itu) orang berumah abadi di situ.

Sampai juga saya ke makam Pak Roem dan Ibu Markisa Dahlia. Mr Mohammad Roem, seorang pejuang, diplomat ulung, politisi dan korban kejahatan PKI.

Berdekatan dengan makam Pak Roem, yang satu liang lahat dengan salah seorang putranta Rumoso Roem, ada makam M Nazir mantan petinggi TNI AL dan makam Mas Isman pendiri Kosgoro.

Di sederetan itu, ada makam Prof Dr dr H Mahar Mardjono mantan Rektor UI. Di masa Jepang berkuliah di Ika Daigaku cikal bakal FK UI.

Setelah puluhan makam saya sambangi, di sisi ujung kompleks makam yang semuanya dipelihara baik, saya terhenti sebentar. Di sisinya saya berdiri, pusara Titik Puspa seniwati legendaris Indonesia.

Makamnya bersisian dengan sederet pusara keluarga Raden Masud Pandji Anom. Pandji Anom tokoh perfilman asal Sambas Kalimantan Barat.

Sebentar pula saya sambangi makam Mh Isnaini. Tokoh politisi dan pejuang. Ada juga makam salah seorang abaknya yang tertera di batu nisannya dilebelkan lahir di Pontianak.

Berhadapan di situ ada makam H Taufiq Tjokroaminoto tak berjauhan dengan makam Fakih Usman mantan Menteri Agama RI.

Dekat kerimbunan batang kenanga yang tengah berkembang, dan menebar harum khasnya membawa ke suasana hati, ada makam H Anwar Harjono. Saya mengenal baik dan semasa hingga akhir hidupnya, kami selalu berkomunikasi. Beliau tokoh GPII dan Masyumi.

Saya juga menyambangi pusara Djohan Sjahruzah yang dimakamkan satu liang lagat dengan istrinya Yoyet putri tokoh gaek H Agus Salim.

Sembari menyinggahi makamnya, saya juga bertemu pusara HR Mochtar Prabu Mangkunegara tak jauh dari situ. Mochtar tokoh Palembang makamnya berdekatan dengan Hj Ida Yusi Dahlan.

Ida Yusi politisi gender di masa lalu, anak dari tentara legendaris M Yusi yang membawa misi TNI mula-mula ke Pontianak untuk belakangan disebut cikal bakal Kodam XII/Tanjungpura.

Berdekatan, saya sambangi pula makam Mr Indra Kasuma. Urang awak Minang yang lekat dengan Pontianak di era 1945-1950 lampau. Turut mengukir sejarah di daerah ini.

Mendekat arah pintu ke luar kompleks TPU Tanah Kusir, ada pusara satu liang lahat suami istri Soedarpo dan Mien Soedarpo Sastrosatomo. Keduanya tokoh pejuang, pengusaha perkapalan dan pemilik awal masjapai pelayaran laut Samudera Indonesia.

Tentu masih banyak lagi kuburan yang saya sambangi. Alhamdulillah kesemua orang yang saya ziarahi dan sebutkan tadu, kesemuanya saya kenal baik. Dan semasa hidup mereka dulu, saya sempat (sedikitnya pernah) bersilaturahmi langsung dengan mereka.

Beristirahatlah dengan lapang dan tenang, dengan penuh kebahagiaan di kampung akhirat, kampung keabadian tempat kita selanjutnya yang kekal dan abadi.

Dan selepas berziarah di Tanah Kusir, saya mampir untuk bersholat di Masjid At-Taqwa di dekat situ. Lepas itu dalam kendaraan menuju ke apartemen tempat saya menginap, saya merenung.

Ternyata pada diri saya, ada dua tempat yang begitu sangat mencekam perasaan.

Dan dua tempat di muka bumi yang mencekam perasaanku itu, yang pertama perpustakaan dan yang kedua kuburan.

Deretan buku di perpustakaan mewakili ilmu pengetahuan yang ditawarkan. Dan deretan nisan di kuburan memberi isyarat berhentinya ilmu pengetahuan.

Insyaallah berkah ...

(Catatan Lepas Din Osman, Minggu (7/12/2025). Subuh 04.15. Jakarta)


Rekomendasi Berita