Kapal Bandong Berlayar di Tengah Perubahan Bisnis Angkutan
- 05 Mei 2025 16:45 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Beberapa kapal bandong yang bentuknya seperti rumah terapung tertambat di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak, Senin (21/4/2025) pagi. Kapal-kapal rute Pontianak - Kapuas Hulu itu sedang menunggu muatan di saat usaha angkutan sungai berubah drastis.
Dari Pontianak ke Kapuas Hulu, kapal bandong mengangkut berbagai barang, seperti air mineral, rak piring, barang pecah belah, tangki air, dan material bangunan. Sebaliknya dari Kapuas Hulu menuju Pontianak, kapal biasanya tanpa muatan, kalaupun ada hanya mengangkut karet. Semua pengiriman tersebut sesuai dengan permintaan dari pemilik barang.
“Kami tak bisa sembarang kirim, takutnya ada risiko apa, pemilik barang kan lepas tanggung jawab,” ujar Paulinus Akiat, salah satu kurir freelance yang mengirimkan berbagai barang menggunakan kapal bandong ke Nanga Embaloh, Kapuas Hulu.
Pengiriman barang, kata Akiat, sepanjang tahun tak mengalami lonjakan termasuk di momen hari besar kegamaan seperti Lebaran, Natal, dan Imlek. Karena barang-barang yang dikirimnya bukan termasuk yang diperlukan saat hari raya keagamaan.
“Malah lebih sepi,” katanya.
Sungai Kapuas masih menjadi alternatif bagi pengiriman barang dari Pontianak ke Kapuas Hulu. Data dari Buku Profil Daerah Kalbar 2024, Sungai Kapuas membentang sepanjang 1.086 km, dengan 942 km di antaranya dapat dilayari.
Dahulu, dengan keterbatasan akses jalan, angkutan kapal menjadi solusi utama untuk menembus jarak yang jauh. Namun, perubahan infrastruktur menyusul prasarana jalan darat yang telah menjangkau sebagian besar kecamatan, telah merombak kebutuhan ekspedisi kapal.
Edi Sartono, salah seorang pengusaha kapal bandong yang masih bertahan. Ia memiliki 1 unit kapal “Fortuna Jaya” jurusan Pontianak – Nanga Embaloh (Kapuas Hulu).
Menurutnya, masa kejayaan kapal bandong sekitar 2007–2008 sudah lewat. Dulu, muatan kapal bisa penuh dalam satu minggu atau sepuluh hari.
Kala itu, kata Edi, ada ritme dan kecepatan yang mendukung arus bisnis. Namun, kini waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kapal bisa mencapai sebulan atau lebih.
“Sekarang udah susah. Macetlah!” ujarnya.
Peningkatan dan perbaikan infrastruktur jalan mengubah peta persaingan antara angkutan sungai dan darat. Angkutan darat, dengan ongkos kirim yang lebih murah dan kecepatan pengiriman memiliki keunggulan kompetitif yang jelas, terutama di era di mana logistik cepat sangat dibutuhkan.
“Dikatakan murah, ndak juga ya. Yang jelas mereka [angkutan darat] cepat sampai [ke tempat tujuan],” ucap Edi.

Rute Pontianak – Putussibau, Kapuas Hulu (Foto: Google Maps)
Perjalanan dari Pontianak ke Nanga Embaloh bisa memakan waktu beberapa hari atau bahkan lebih, tergantung pada kondisi sungai dan muatan yang diangkut. Perjalanan menuju Putussibau di bagian Hulu lebih lama lagi. Di sini, sungai tidak hanya semakin kecil, tapi juga memiliki arus deras, bebatuan, dan elevasi lebih tinggi.
Besarnya biaya operasional menjadi beban bagi Edi dan para pengusaha lain yang masih mengoperasikan kapal. Biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk bahan bakar minyak (BBM) Solar mencapai angka 40 juta rupiah dalam sekali perjalanan.
Menurutnya, biaya operasional kapal bandong sangat dinamis tidak menentu. Ketika arus sungai deras, kebutuhan BBM meningkat. Perbedaan konsumsi antara kondisi arus deras dan tidak deras, meskipun kecil (sekitar 2 sampai 3 drum), tetap berdampak signifikan ketika dihitung dalam skala penggunaan per perjalanan.
“Kami juga ndak bisa beli BBM lewat Pertamina, semua lewat calo. Itu keluhan kami,” katanya.
Dalam sekali perjalanan, Edi membawa 2 juru mudi dan 6 awak kapal. Untuk gaji mereka sekitar 20 juta rupiah. Jadi, untuk biaya BBM dan upah pekerja sudah 60 juta rupiah.
Sementara pendapatan, kata Edi, sangat bergantung pada jenis dan volume barang yang diangkut. Untuk muatan seperti semen, margin keuntungan hanya cukup untuk menutup kebutuhan harian. Ini mengakibatkan margin keuntungan yang sangat tipis, apalagi jika dihitung kebutuhan untuk biaya tambahan seperti jaga malam, listrik, dan biaya tak terduga lainnya.
“Saya ndak katakan tekor, tapi menipis. Cukup makan minum jak lah,” ujarnya.
Kalau banyak muatan hingga atap kapal, pendapatannya bisa mendekati 20 puluh juta rupiah. Namun, itu belum termasuk potongan untuk di rumah seperti belanja sehari-hari dan biaya anak sekolah serta lainnya. Satu lagi, potongan untuk biaya selama perjalanan.
“Istilahnya dua periuk. Kami tidak punya usaha lain, cuma di ekspedisi ini,” katanya.
Kapal bandong yang terbuat dari kayu memerlukan perawatan rutin. Pemilik kapal, kata Edi, paling tidak setahun sekali membawa kapalnya ke dock kapal untuk perawatan. Untuk kapal yang sudah tua, biaya perbaikan bisa di atas seratus juta rupiah.
“Kapal, kalau tidak laik pakai, kami tidak berani muat,” katanya, menegaskan.
Besarnya ongkos perawatan kapal di saat pendapatan yang menurun drastis membuat beban operasional semakin berat. Kondisi di mana pendapatan berkurang dari 8 atau 9 rate per tahun menjadi 4–5 rate membuat keputusan untuk tetap beroperasi atau berhenti menjadi pilihan yang dilematis.
“Banyak yang sudah menjual kapalnya,” kata Edi.
Ia menambahkan kondisi alam pun memainkan peran besar, terutama musim kemarau yang mempengaruhi arus dan pendangkalan sungai. Di masa kemarau panjang, operasi kapal harus terhenti.
“Saya pernah tambat di sini [Dermaga Kapuas Indah], tiga bulan lebih,” ucapnya.
Edi sejauh ini masih bertahan. Kepercayaan dari para pelanggan di Pontianak dan kebutuhan warga di Hulu menjadi fondasi agar usaha ini berjalan, meskipun dalam kapasitas yang lebih terbatas. Penurunan frekuensi muatan membuatnya menggeser rute kapal dari sebelumnya Pontianak-Putussibau menjadi Pontianak-Nanga Embaloh.
“Jadi, mau tidak mau kerja teruslah. Ke depannya kami juga tidak bisa membaca. Semampu kami lah,” katanya.

Seorang buruh angkut memikul sekarung tepung melewati deretan tabung elpiji menuju kapal bandong di Dermaga Kapuas Indah, Jumat (27/4/2025) (Foto: RRI/Boyke Sinurat)
Dermaga Kapuas Indah yang berada di tepian Sungai Kapuas, Kota Pontianak pernah menjadi pusat aktivitas kapal bandong. Dulu ada 40 unit kapal rute Pontianak – Kapuas Hulu yang bersandar untuk bongkar muat. Kini menyusut tinggal enam unit.
Salah satu yang masih bertahan bekerja di kapal bandong adalah Herman, yang mulai menjadi juragan (juru mudi) sejak tahun 1980. Selama itu pula, ia berpindah dari satu kapal ke kapal lain. Dua tahun terakhir, Herman menjadi juragan kapal bandong “Rezeki Jaya” rute Pontianak-Jongkong (Kapuas Hulu).
Sebelum menjadi juragan, pria yang akrab dipanggil pak Herman ini bekerja sebagai buruh di kapal bandong milik keluarganya di Kecamatan Jongkong. Di sini ia tidak hanya belajar mengemudikan kapal, tetapi juga memahami dinamika kerja keras, ketekunan, dan cara menghadapi rintangan secara langsung.
Setiap hambatan yang ia hadapi di tengah perairan, mulai dari cuaca buruk, arus deras, atau gangguan teknis, semakin mengasah kemampuannya dalam mengambil keputusan cepat dan aman bagi kapal dan kru. “Makin tua, banyak yang cari untuk bawa kapal,” kata pak Herman.
Salah seorang anaknya pernah menyarankan pak Herman untuk berhenti bekerja di kapal bandong. Namun, di usia yang sudah tidak muda lagi beralih ke pekerjaan lain bukan mudah, apalagi tak banyak pilihan di kampungnya. Pekerjaan alternatif seperti nelayan tangkap sungai pun sulit karena kondisi fisik yang mulai menua.
“Jadi, beginilah tetap,” katanya.
Pertimbangan lain, keinginannya untuk tetap dekat dengan dua anaknya yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Pontianak. Dengan menjadi juragan, pak Herman memiliki kesempatan untuk rutin berkunjung ke Pontianak, mendampingi dan mendukung anak-anaknya yang tengah kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri.
Usia pak Herman kini sudah 64 tahun. Meski belum terpikir untuk berhenti, ia sudah menyadari setiap pekerjaan pasti memiliki masa berakhirnya, terutama ketika mempertimbangkan keterbatasan fisik seiring bertambahnya usia.
"Selama fisik masih kuat dan pemilik kapal masih membutuhkan," katanya sambil tersenyum.
Cerita kapal bandong di Sungai Kapuas bukan hanya tentang angka dan rute, melainkan gambaran pergeseran budaya dan ekonomi. Kapal yang dulu menjadi simbol kekayaan budaya pelayaran kini menyusut tak hanya dari segi jumlah tetapi juga dari segi keahlian yang telah dibina selama puluhan tahun.