Dari Resep Ibu ke Usaha Kue Kering, Perjalanan Titin Sumarni Membangun Tifaraku
- 11 Mar 2026 00:41 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Berawal dari resep sederhana sang ibu, UMKM kue kering milik Titin Sumarni kini berkembang dan dikenal dengan nama Tifaraku. Perjalanan usaha ini dimulai sejak tahun 2013, meskipun legalitas usahanya baru resmi diperoleh pada tahun 2019.
Titin mengatakan, motivasi awal membuka usaha datang dari kebiasaan ibunya yang gemar membuat berbagai kue tradisional. Saat itu sang ibu kerap membuat kue jadul berbahan sagu di rumah. Melihat hasil kue yang disukai banyak orang, ibunya kemudian menyarankan agar kue tersebut dijual
“Sebenarnya mama saya yang pertama kali menyuruh jualan. Awalnya hanya coba-coba saja, tapi ternyata langsung ada yang pesan,” ucap Titin di Pontianak, Selasa, 10 Maret 2026.
Tak disangka, orderan pertama yang diterima cukup besar, yakni mencapai 25 kilogram kue kering. Dari situlah Titin semakin yakin untuk mengembangkan usaha rumahan tersebut.
Pada masa awal produksi, Titin membuat beberapa jenis kue kering seperti Sugar Oil, Putri Salju, dan Palm Sugar. Seiring waktu, variasi produk terus bertambah mengikuti selera konsumen.
Salah satu produk yang cukup diminati yaitu Sugar Oil, adalah kue kering yang dibuat tanpa menggunakan mentega sehingga rasanya lebih ringan dan disukai anak-anak. Produk ini dijual dengan harga sekitar Rp150 ribu per kilogram. Selain kemasan setengah kilo, Tifaraku juga mengemas produk dalam beberapa varian kemasan, mulai dari kemasan 35 ribu, 1000 ml, 600 ml, dan kemasan lainnya.
Selain itu, ada juga Karang Mente, kue berbahan kacang yang menggunakan bahan-bahan premium. Dalam proses produksinya, Titin menekankan kebersihan serta keamanan pangan agar kualitas kue tetap terjaga.
"Saat ini, beberapa produk yang menjadi best seller di Tifaraku antara lain Kurma Kacang, Nastar, dan Jambu Mente Cookies. Kue-kue tersebut banyak diminati pelanggan, terutama menjelang hari-hari besar," ucapnya.
Dalam menjalankan usahanya, Titin dibantu oleh lima orang karyawan. Bersama tim kecilnya, proses produksi kue dilakukan setiap hari mulai pukul 08.00 WIB pagi, hingga menjelang maghrib. (khusus menjelang hari raya sampai dengan pukul 21.00 malam).
Bagi Titin, usaha Tifaraku bukan hanya sekadar bisnis UMKM, tetapi juga cara melanjutkan tradisi keluarga dalam membuat kue. Dari dapur rumah dan resep sang ibu, kini usahanya terus berkembang dan semakin dikenal oleh para pecinta kue kering.
Baca juga: Toko Berkah Jaya Snack Dukung Hampir 200 Produk UMKM, Promosi Aktif di Media Sosial