Dari Lapak Rumah kini ke Jaringan Sarapan Pagi

  • 07 Feb 2026 14:33 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Usaha mikro jualan sayuran yang dirintis Dicky Mawardi sejak 2007 terus menunjukkan daya tahan di tengah dinamika ekonomi. Berawal dari berjualan sayur-mayur di rumah, kini berkembang menjadi penyedia Sarapan Pagi (Sargi) dan menjelma sebagai penyedia sarapan pagi, yang menitipkan produknya di belasan titik penjualan di Kota Pontianak.

Dicky Mawardi, Owner Sargi Sarapan Pagi dan Sayuran, diacara Teras UMKM RRI Pro4 Pontianak, Selasa 03 Februari 2026, mengungkapkan bahwa usaha ini awalnya hanya fokus pada penjualan sayuran hasil pasokan dari Kabupaten Bengkayang dan Melawi. Seiring waktu, ia melihat peluang baru di sektor kuliner pagi hari.

“Awalnya cuma jual sayur. Tapi lama-lama melihat peluang sarapan pagi cukup besar, apalagi kebutuhan orang tiap hari,” ujar Dicky Kepada Budiman Taher (Host) Teras UMKM,.

Usaha sarapan pagi Sargi mulai berjalan pada 2023 dengan menu sederhana seperti nasi kuning, lontong sayur, dan mie goreng. Kini variasinya semakin bertambah, mulai dari rendang jengkol, gorengan pisang, hingga mie goreng ayam suwir. Produk-produk tersebut diproduksi secara rumahan dengan melibatkan anggota keluarga.

“Saya dibantu anak, kakak ipar, dan keponakan. Total sekitar empat orang yang terlibat, dari masak sampai pengepakan,” kata Dicky.

Dalam pendistribusian, Dicky menitipkan sarapan pagi ke sekitar 12 titik lapak serba sepuluh ribu di Pontianak. Setiap hari, puluhan porsi disebar ke berbagai lokasi dengan sistem titip jual. Meski tidak selalu habis terjual, Diki mengaku tetap menjaga kualitas produk.

“Kalau masih layak, kami olah lagi. Tapi kalau sudah tidak memungkinkan, ya tidak dijual. Kadang dibagi ke tetangga,” ujar Dicky.

Selain kuliner pagi, Dicky juga dikenal sebagai pemasok jengkol dan hasil bumi lain seperti jagung dan umbi-umbian. Bahkan, produk jengkolnya sempat dikirim ke Jakarta dalam jumlah ratusan kilogram.

“Pernah kirim sekitar 170 kilo ke Jakarta. Kalau musimnya bagus, sebenarnya pengen bisa sampai beberapa ton, cuma belum ada konsumen,” ucap Dicky.

Menurut Dicky, tantangan terbesar UMKM adalah pengenalan produk dan pengelolaan stok agar tidak merugi. Namun dengan strategi harga yang wajar dan menjaga kepercayaan pelanggan, usahanya mampu bertahan hingga hampir dua dekade.

“Yang penting itu jujur sama konsumen dan jangan ambil untung terlalu tinggi. Rezeki itu sudah ada jalannya,” tutur Dicky.

Rekomendasi Berita