[KALEIDOSKOP] Konflik Palestina-Israel Berkepanjangan, Korban Terus Bertambah
- 27 Des 2024 18:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Jumlah korban tewas akibat konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina terus meningkat. Data terakhir pada Selasa (24/12/2024) menunjukkan 45.317 warga Palestina meninggal dunia dan 107.713 lainnya terluka sejak tahun lalu.
Sementara, sejak 7 Oktober 2023, setidaknya 1.139 warga Israel tewas selama serangan pimpinan Hamas di hari itu. Selain itu, lebih dari 200 orang Israel kini masih ditawan Hamas.
Serangan terbaru pada 22 Desember 2024 menambah daftar panjang korban, dengan 21 warga Palestina tewas di Jalur Gaza. Krisis kemanusiaan di Gaza juga kian memburuk, terutama di kalangan anak-anak.
Wakil Duta Besar Inggris untuk PBB James Kariuki melaporkan Gaza saat ini memiliki malnutrisi akut tertinggi di dunia. Hal ini menambah penderitaan yang dihadapi penduduk di wilayah tersebut.
Laporan Unicef pada 18 Desember 2024 menunjukkan 1,5 juta anak-anak dan 3,3 juta warga Palestina membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sementara, 1,9 juta orang atau 90 persen dari penduduk Jalur Gaza harus hidup dalam pengungsian.
Organisasi internasional seperti Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International menuduh Israel melanggar hukum internasional dan kejahatan perang. Pada 18 Desember 2024, Dewan Keamanan PBB mengutuk pembangunan permukiman ilegal Israel di wilayah Palestina.
Upaya Israel tersebut dianggap semakin memperburuk situasi. Selain itu, seruan penghentian serangan terus disampaikan berbagai pihak.
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mendesak dihentikannya kekerasan demi melindungi warga sipil yang menjadi korban utama konflik ini. Sementara, International Criminal Court (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Surat penangkapan itu juga dikeluarkan untuk mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant. Surat yang dikeluarkan pada 21 November 2024 memuat tuduhan kejahatan perang atas mereka berdua.
Di sisi lain, konflik ini membawa kabar duka bagi kelompok Hamas. Pemimpin politik mereka, Ismail Haniyeh, tewas dalam serangan rudal berpemandu Israel di Teheran, Iran, pada 31 Juli 2024.
Serangan terjadi beberapa jam setelah Haniyeh menghadiri upacara pelantikan Presiden Iran baru, Masoud Pezeshkian. Hamas mengonfirmasi Haniyeh meninggal dunia akibat serangan ini, yang menjadi pukulan besar bagi gerakan perlawanan Palestina.
Reaksi internasional pun bermunculan. Wakil Presiden Indonesia Ma'ruf Amin menyampaikan belasungkawa atas kematian Haniyeh.
Ia menyebutnya sebagai "pejuang kemerdekaan yang berjuang untuk kebebasan Palestina dari penjajahan Israel". Di Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga turut menyampaikan belasungkawa sembari menyelidiki penyebab serangan tersebut.
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati mengecam tindakan Israel yang dinilainya sebagai "tindakan kriminal" dan melanggar hukum internasional. Kematian Ismail Haniyeh, yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Otorita Palestina, kemudian digantikan Yahya Sinwar.
Namun, Yahya Sinwar hanya menjabat posisi tersebut dua setengah bulan lamanya, akibat dibunuh Israel pada 16 Oktober 2024. Israel belakangan secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan Yahya Sinwar, yang tewas dalam serangan militer di Jalur Gaza.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa Sinwar menjadi target operasi militer yang dilakukan Israel. Ia dianggap sebagai otak di balik serangan besar-besaran Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Katz juga memperingatkan bahwa Israel akan memperluas operasi militernya, termasuk menyerang pemimpin Houthi di Yaman. Mereka akan melakukan pendekatan yang sama seperti dalam pembunuhan Sinwar.
Selain Sinwar, Israel mengakui pembunuhan Ismail Haniyeh, mantan pemimpin Hamas, di Teheran pada Juli 2024. Israel memang bersumpah akan menghancurkan kepemimpinan Hamas sebagai respons atas serangan yang dilancarkan kelompok tersebut pada Oktober 2023.
Kematian Sinwar juga memicu reaksi berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI menyampaikan duka cita mendalam atas syahidnya Sinwar.
Khaled Meshaal, pemimpin Hamas di luar Palestina, mengambil alih sebagai pimpinan sementara kelompok tersebut. Meshaal kini memimpin komunikasi dengan pihak-pihak internasional, termasuk Turki, Qatar, dan Mesir.
Di sisi lain, seruan menghentikan agresi Israel semakin kuat dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal OKI Hussein Ibrahim Taha dan Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menyuarakan seruan ini.
Mereka menekankan pentingnya menghentikan kekerasan yang telah merusak stabilitas regional, dengan gencatan senjata segera di Gaza dan Lebanon. Indonesia juga memperkuat ajakannya untuk menyelesaikan persoalan Palestina, juga Suriah, sebagai bagian dari perkembangan terkini di Timur Tengah.
Presiden Prabowo menyerukan persatuan dan kerja sama antarnegara muslim saat berlangsung KTT Ke-11 Developing Eight (D-8), Kairo, Mesir. Meski begitu, upaya internasional untuk menghentikan siklus kekerasan ini masih belum menunjukkan hasil konkret.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....