Tika Beut, Bangkitnya Identitas Lokal Menuju Generasi Emas 2045
- 27 Des 2024 18:24 WIB
- Lhokseumawe
KBRN,Lhokseumawe : Komunitas Tika Beut dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe kembali menggelar diskusi inspiratif bertajuk "Generasi Emas 2045 Dalam Perangkap Hibriditas Budaya". Diskusi yang berlangsung pada Jumat, (27/12/2024) ini sukses menarik perhatian mahasiswa dan akademisi di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah.
Dalam forum yang diadakan di bawah Pohon Rindang (DPR) tersebut, hadir sebagai pembicara Farhan Zuhri, S.Hum., M.Pd, Wakil Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe. Ia mengupas tuntas pentingnya melestarikan budaya lokal sebagai tameng menghadapi ancaman krisis identitas.
“Indonesia menuju 2045 harusnya menjadi momen kebanggaan kita. Namun, jangan sampai di balik kebanggaan itu, kita kehilangan jati diri budaya yang menjadi warisan nenek moyang. Mari bersama-sama menjaga apa yang sudah menjadi identitas bangsa,” tegas Farhan.
Diskusi ini sekaligus menjadi ruang apresiasi untuk Komunitas Tika Beut, yang menurut Farhan, berhasil menciptakan wadah bagi mahasiswa untuk terus mengasah nalar kritis. "Tika Beut adalah oase di tengah derasnya arus modernisasi. Ini harus terus dipertahankan sebagai ruang untuk melestarikan budaya berpikir," tambahnya.
Budaya dan Pemikiran Kritis: Kunci Menghadapi Globalisasi
Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Dr. Rizqi Wahyudi, menyebut diskusi ini sebagai langkah strategis dalam membangun karakter mahasiswa. "Mahasiswa harus tetap kritis, tetapi juga mampu menjunjung tinggi budaya lokal. Jika ini terus digalakkan, kita akan siap menyambut tantangan Indonesia Emas 2045," ungkapnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Jurusan KPI, Zanzibar, M.Sos, menegaskan pentingnya kombinasi antara pemikiran kritis dan pelestarian budaya. "Hibriditas budaya memang tak terelakkan, tetapi kita harus pandai memilih mana yang memperkaya tanpa merusak identitas kita," tuturnya.
Langkah Nyata Komunitas Tika Beut
Ketua Komunitas Tika Beut, Jihan Fanyra, merasa bersyukur atas suksesnya acara ini. "Diskusi ini membuktikan bahwa mahasiswa kita masih peduli dengan identitas budaya. Semoga langkah kecil ini menjadi inspirasi besar bagi generasi mendatang," ujarnya dengan penuh semangat.
Kegiatan seperti ini diharapkan tidak hanya mengisi ruang diskusi, tetapi juga membentuk pola pikir mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan globalisasi tanpa tercerabut dari akar budaya.
Menjadi Generasi yang Tak Gentar pada Perubahan Zaman
Forum ini menekankan bahwa mahasiswa adalah penjaga budaya yang juga berperan sebagai penggerak masa depan. Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana identitas bangsa tetap menjadi pondasi yang kokoh.
"Generasi yang siap adalah generasi yang mampu berubah, tetapi tidak melupakan siapa mereka," tutup Ketua Jurusan KPI, penuh makna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....