Mgr. Albertus Soegijapranata, Uskup Pribumi Indonesia Pertama

  • 27 Des 2024 18:34 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Mgr. Albertus Soegijapranata adalah salah satu tokoh pahlawan Indonesia yang juga merupakan uskup pribumi Indonesia pertama. Pengaruhnya yang sangat besar, membuat namanya diapresiasi sebagai nama universitas (Universitas Katolik Soegijapranata Semarang) dan nama jalan di beberapa daerah, termasuk di kota Madiun. Hal tersebut disampaikan sejarawan Historis Van Madioen (HVM) saat siaran obrolan Jaga Malam Komunitas di PRO 2 RRI Madiun.

“Beliau orang yang menjembatani antara orang Jawa dan agama Katolik. Pendekatanya kultural dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sehingga ketika perang kemerdekaan, gereja itu dibuka untuk kepentingan perjuangan. Beliau dengan segala daya upaya, menjadikan suster suster dengan latar belakang keperawatan sebagai relawan membantu perjuangan bangsa kita. Beliau juga memiliki jasa dan peran dalam perang kemerdekaan terutama di pertempuran lima hari di Semarang”, jelas Septian Dwita K, sejarawan HVM.

Dalam menyebarkan agama Katolik, Mgr. Albertus Soegijapranata dikenal sebagai tokoh Pro nasionalis. Beliau dikenal sebagai tokoh 100% Katolik dan 100% Indonesia. Sebelum kemerdekaan, kebanyakan uskup berasal dari kalangan orang Belanda. Dan Soegijapranata menjadi salah satu uskup pertama dari kalangan pribumi.

“Soegijapranata kelahiran Surakarta. Orang tuanya seorang abdi dalem kasunanan Surakarta. Berhubung baliau kalangan menengah ke bawah, sekolahnya bersama Romo van Lith di Muntilan. Secara umum, pengaruh Romo Soegijapranata ini adalah orang yang berusaha membuka kemelut dimana kekatolikan itu lekat dengan Eropa, dengan kolonial. Berhubung beliau berguru dengan Romo van Lith yang bisa mengsinkritisme kebudayaan antara Jawa dan kekatolikan, beliau dengan semangat memberikan edukasi bahwa meskipun orang katolik harus tetap memegang kebudayaan Jawa. Harus 100% Indonesia. Sehingga kekatolikan di Indonesia memiliki ciri khas lokal. dan itu yang diperjuangkan Romo Soegijapranata”, ungkap Septian.

Karakter khas yang sekaligus menjadi pembeda antara uskup Soegijapranata dan uskup lain kala itu adalah sifat santun dan kerendahan hatinya. Soegijapranata , Septian menambahkan, lebih mengerti masyarakat di sekitar yang pada masa itu Indonesia masih dijajah Belanda. Dalam menyebarkan agama Katolik, Soegijapranata menggunakan bahasa Jawa untuk merangkul dan lebih dekat dengan masyarakat sekitar.

Sementara itu, menurut Yanni Harsanti, seorang sejarawan dari HVM, walaupun Soegijapranata belum pernah ke Madiun tapi pengaruhnya sangat besar secara ajaran di Madiun. Di Madiun, Katolik masuk lewat serikat Jestuit yang ada di Ambarawa, sedangkan Uskup di Madiun adalah orang Belanda.

“Karena beliau orang timur, lebih andap asor, lebih mengerti masyarakat. Namanya dijadikan sebuah jalan karena Monsinyur itu (Soegijapranata) peribumi pertama yang menganut agama Katolik, di Indonesia. Dan yang menyebarkan agama Katolik di Jawa, terlebih di Jawa Tengah. Goa Maria, Sendang Songo Muntilan. Peran beliau sangat besar di sana. Sangat besar pengaruhnya sampai nama beliau dipakai untuk nama universitas juga dan untuk nama jalan juga, di dekat RS Griya Husada kota Madiun”, pungkas Yanni.

Yanni Harsanti (baju biru kiri) dan Septian Dwita K (baju biru kanan), sejawaran HVM saat siaran obrolan Komunitas Jaga Malam PRO 2 RRI Madiun (Foto: tangkapan layar kanal youtube RRI Madiun)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....