Napak Tilas Jejak Yesus di Gereja Makam Kudus Palestina
- 25 Des 2024 21:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Umat Kristen di Palestina merayakan Natal dengan suka cita tapi dalam situasi penuh keprihatinan. Ini adalah tahun kedua mereka merayakan Natal dengan suasana yang muram.
Di kota Bethlehem-kota tempat kelahiran Yesus-di Tepi Barat, tidak nampak keriaan layaknya suasana Natal. Tidak ada marching band anak-anak yang menjadi ikon kota itu setiap perayaan Natal.
Tidak ada Pohon Natal raksasa yang biasa didirikan di alun-alun kota. Tidak ada lampu-lampu hias yang menerangi rumah dan jalan-jalan di kota itu.
Natal di Palestina berganti menjadi suasana muram, karena semua orang menahan diri untuk tidak menunjukkan kegembiraan. Tapi lebih menunjukkan empati karena saudara-saudara mereka di Gaza masih mengalami pembantaian kejam oleh zionis Israel.
Laporan Al-Jazeera menyebutkan, alih-alih bergembira ria, anak-anak di Tepi Barat merayakan Natal dengan melakukan long-march. Dengan mengenakan seragam sekolah, anak-anak itu berjalan keliling pemukimannya dengan membentangkan spanduk bertuliskan “We Want Life, Not Death”.
“Tahun ini, kami membatasi kegembiraan kami,” kata Walikota Bethlehem, Anton Salman seperti dikutip dari Al-Jazeera. Pesan Natal tahun ini menyerukan agar warga dunia membantu mengakhiri penderitaan rakyat Palestina akibat penjajahan zionis Israel.

Selama dua tahun genosida Israel di Gaza, kedatangan turis ke Palestina turun drastis. Para turis itu biasanya datang untuk berziarah ke situs muslim maupun Kristen yang ada kota Yerusalem dan sekitarnya.
Salah satu situs yang menjadi tempat utama peziarah Kristen adalah Gereja Makam Kudus atau The Church of Holy Sepulchre. Gereja ini berada di kota Tua Yerusalem atau umat Islam menyebutnya Al-Quds, di mana terdapat kompleks Masjid Aqsa.
The Church of Holy Sepulchre, Tempat Paling Suci Umat Kristiani

Agustus 2024, cuaca di Kota Yerusalem sedang panas-panasnya. Saya dan rombongan yang berjumlah 11 orang, bisa dibilang beruntung bisa masuk ke Palestina di tengah situasi tegang perang di Gaza.
Selama tiga hari di Yerusalem, nyaris tak melihat rombongan turis lain selain warga lokal. Jadwal hari itu adalah tur keliling kota Yerusalem, salah satunya berkunjung ke The Church of Holy Sepulchre atau Gereja Makam Kudus.
Perjalanan dilakukan melewati pasar, yang uniknya, pasarnya terbagi menjadi bagian untuk Muslim, Kristen dan Yahudi Israel. Di bagian pasar untuk Kristen, kami ditunjukkan titik awal yang disebut ‘Jalan Salib’ atau Jalur Via Dolorosa.
Jalur ini diyakini sebagai jalur perjalanan Yesus sambil menggotong salib, yang berakhir di lokasi Gereja Makam Kudus di bukit Golgota. Di lokasi gereja ini terdapat tempat yang diyakini sebagai tempat Yesus disalib.

Begitu masuk ke bagian dalam gereja, ada batu persegi panjang yang diyakini sebagai tempat Yesus disemayamkan sebelum dimakamkan. Agak masuk ke dalam, terdapat bangunan seperti gereja kecil, di dalam bangunan itulah terdapat makam yang diyakini sebagai makam Yesus.
Untuk masuk ke dalam makam harus bergantian karena ukuran ruangannya yang sempit. Untuk masuk ke dalam makam pun kita harus sedikit menundukkan kepala, karena pintu masuknya agak rendah.
Ruangan di mana terdapat makam pun hanya cukup untuk dua atau tiga orang, suananya agak gelap, hanya disinari oleh cahaya lilin. Makamnya pun hanya berbentuk bangunan batu persegi panjang dengan ornamen-ornamen sederhana.

Melihat keterkaitannya dengan perjalanan hidup Yesus, tak heran kalau Church of Holy Sepulchre menjadi gereja yang sangat disucikan umat Kristen seluruh dunia. Setiap tahunnya, saat Paskah, umat Kristen dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong datang ke gereja ini.
“Kalian beruntung, sekarang gereja ini sedang sepi pengunjung. Karena sejak serangan militer Israel ke Gaza, tidak ada turis yang datang,” kata pemandu wisata kami bernama Ahmed.
Biasanya, tambah Ahmed, untuk masuk ke gereja ini harus antri panjang. Tapi hari itu, leluasa melihat hingga ke sudut-sudut gereja, karena suasananya bisa dibilang sepi.
Dari luar, bentuk bangunan gereja yang sudah mengalami beberapa kali renovasi ini, tampak biasa saja. Demikian pula bagian dalamnya, yang seperti ruangan terbuka, tapi tetap tetap terlihat megah dengan tiang-tiang besar dan tinggi dengan kubah di atasnya.
Gereja Makam Kudus diperkirakan dibangun pada tahun 325 hingga 335 Masehi, oleh Santa Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus. Gereja ini sekarang di bawah kekuasaan tiga kelompok Kristen, yaitu Kristen Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia dan Katolik Roma.
Bukit Zaitun, Tempat Yesus Naik ke Langit

Setelah mengunjungi The Church of Holy Sepulchre, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Zaitun. Jaraknya hanya sekitar 1,5 kilometer dari Kompleks Kota Tua Yerusalem.
Bukit Zaitun menurut ceritanya, merupakan tempat yang penting bukan hanya untuk umat Kristen, tapi juga Muslim dan Yahudi. Bagi umat Kristen, Bukit Zaitun diyakini sebagai lokasi saat Yesus Kristus naik ke langit.
Di bukit Zaitun ini pula, ada bekas tapak kaki yang diyakini sebagai bekas tapak kaki Yesus. Di bukit Zaitun ini pula, dipercaya sebagai tempat Yesus mengajar murid-muridnya.
Selain melihat tapak kaki Yesus, Bukit Zaitun menjadi lokasi strategis untuk melihat seluruh Kota Yerusalem dari ketinggian. Termasuk tempat untuk melihat luasnya Kompleks Masjid Aqsa dari kejauhan.

Melihat sisa-sisa sejarah Islam dan Kristen di Yerusalem, betapa pada masanya Palestina adalah tempat yang indah. Dimana umat agama Islam, Kristen bahkan Yahudi bisa hidup berdampingan.
Sampai akhirnya, datang orang-orang zionis Israel, merampas rumah, tanah dan harta benda milik warga lokal serta mendirikan negara ilegal Israel. Saat itulah penjajahan dan penindasan dimulai, yang membuat rakyat Palestina hidup dalam penderitaan.
Keberadaan masjid dan gereja pun terancam tindakan perusakan bahkan penghancuran oleh pemukim dan penguasa zionis Israel. Sejatinya, bukan hanya Muslim tapi juga umat Kristen di Palestina mengalami penindasan di bawah rezim zionis Israel.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....