Siaran Piala Dunia RRI Hadirkan Pengalaman Inklusif bagi Tunanetra

  • 21 Jul 2026 22:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Program Pesta Bola Dunia RRI resmi berakhir setelah lebih dari sebulan menyiarkan Piala Dunia 2026.
  • Siaran mendapat apresiasi khusus karena menghadirkan pengalaman sepak bola yang inklusif bagi penyandang tunanetra melalui keterlibatan PERTUNI.
  • Ketua Dewan Pengawas RRI, Anwar Mujahid Adhy Trisnanto, menekankan bahwa lembaga penyiaran publik berkewajiban memastikan seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, mendapatkan akses informasi yang setara.

RRI.CO.ID, Jakarta – Program Pesta Bola Dunia RRI resmi berakhir setelah lebih sebulan menyiarkan Piala Dunia 2026. Siaran tersebut mendapat apresiasi karena telah menghadirkan pengalaman sepak bola yang inklusif bagi penyandang tunanetra.

Ketua Dewan Pengawas RRI, Anwar Mujahid Adhy Trisnanto, menilai keterlibatan Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) menjadi pencapaian penting. Menurutnya, lembaga penyiaran publik wajib memastikan seluruh masyarakat memperoleh layanan informasi yang setara, termasuk para penyandang disabilitas.

“Yang paling menakjubkan itu keterlibatan PERTUNI, teman-teman difabel. Sehingga kita benar-benar menjadi media yang memberi manfaat yang jelas kepada teman-teman difabel tadi,” kata Anwar usai seremoni penutupan program siaran di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.

Anwar menambahkan bahwa kerja sama dengan PERTUNI telah dibangun sejak beberapa waktu lalu. Menurutnya, kolaborasi tersebut perlu terus dikembangkan pada berbagai program olahraga yang disiarkan RRI.

“Ini merupakan bagian dari kebijakan yang dibuat oleh Dewan Pengawas untuk periode 2021-2026, yaitu memperhatikan kelompok-kelompok yang marjinal, termasuk di antaranya teman-teman difabel ini. Menjadi kewajiban kami melayani mereka, tidak hanya saat Piala Dunia, tetapi juga pada event-event lainnya,” kata Anwar.

Komitmen tersebut dapat diwujudkan melalui penyampaian deskriptif selama pertandingan berlangsung. Pendengar, terutama penyandang tunanetra, dapat membayangkan setiap situasi pertandingan hanya melalui narasi komentator.

Pada kesempatan yang sama, komentator sepak bola Estu Santoso mengaku semakin memahami arti penting siaran radio sejak Piala Dunia 2018. Pengalaman berinteraksi dengan pendengar tunanetra membuatnya melihat radio mampu menjangkau semua kalangan.

"Saat Piala Dunia 2018, saya menerima telepon dari pendengar tunanetra. Sejak itu saya sadar suara radio bisa dinikmati semua orang," kata Estu.

Ia juga mengaku terharu ketika mengetahui anggota PERTUNI Takengon berkumpul untuk mendengarkan siaran Piala Dunia 2026. Pengalaman itu semakin memotivasinya untuk menyampaikan jalannya pertandingan secara detail.

"Di radio saya tidak hanya menganalisis, tetapi juga menggambarkan setiap kejadian di lapangan. Bagi saya, itu pengalaman terbaik karena teman-teman tunanetra bisa ikut menikmati pertandingan," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Program dan Produksi RRI, Mistam, menilai siaran Pesta Bola Dunia dapat membawa layanan RRI semakin berkembang. Ia juga berharap siaran tersebut dapat membangkitkan semangat generasi muda untuk berprestasi di sepak bola.

"Kami berharap program ini membawa RRI ke tingkat berikutnya, baik melalui siaran terestrial, kanal digital, maupun media sosial. Program Piala Dunia ini kami harapkan menginspirasi anak bangsa agar memiliki semangat berkompetisi di tingkat internasional, terutama di sepak bola," kata Mistam.

Keberhasilan program Pesta Bola Dunia di RRI memperlihatkan siaran olahraga dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Pada seremoni penutupan, RRI juga memberikan apresiasi kepada para komentator yang telah mendampingi pendengar sepanjang Piala Dunia 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....