Perkenalkan "Jabulani", Si Bola Piala Dunia yang Sulit Ditaklukkan
- 14 Mei 2026 12:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Jabulani dikenal sebagai bola Piala Dunia yang memilikii banyak kontroversi.
- Sulitnya mengontrol Jabulani membuat sejumlah kiper Timnas di Piala Dunia kewalahan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Bola Trionda dengan segala teknologi mutakhirnya resmi diperkenalkan sebagai identitas baru untuk ajang Piala Dunia 2026. Sebelum itu, pernah ada sebuah bola Piala Dunia legendaris bernama "Jabulani" yang terkenal sulit ditaklukkan.
Adidas memperkenalkan Jabulani pada Desember 2009 sebagai bola resmi Piala Dunia 2010. Nama Jabulani berasal dari bahasa Zulu yang berarti "merayakan".
Bola itu menggunakan delapan panel tiga dimensi dengan teknologi thermal bonding. Adidas menyebut desain itu membuat bentuk bola lebih bulat dan aerodinamis.
Jabulani juga dilengkapi teknologi yang disebut Grip’n’Groove untuk meningkatkan kontrol dalam berbagai kondisi cuaca. Desain warnanya memakai 11 warna sebagai simbol bahasa dan komunitas di Afrika Selatan.
Namun, Jabulani di lapangan bak "bola nakal". Banyak pemain justru mengeluhkan karakter bola sepanjang turnamen berlangsung.
Kritik paling keras dilayangkan oleh dari kiper saat itu. Salah satunya mantan kiper Spanyol, Iker Casillas.
Casillas menyebut Jabulani sulit diprediksi ketika melambung di udara. Kiper Brasil, Julio Cesar, bahkan membandingkannya dengan bola murah yang dijual di supermarket.
Keluhan serupa juga datang dari Gianluigi Buffon dan David James. Mereka menilai arah pantulan dan laju bola sering berubah mendadak di lapangan.
Jabulani makin kelihatan susah diatur setelah muncul sejumlah gol jarak jauh dan blunder kiper. Curiganya, bola ini memang memiliki aerodinamika yang kurang bagus.
Melansir The Independent, seorang ahli dari NASA bernama Rabi Mehta mencoba melakukan mempelajari karakter aerodinamika bola tersebut. Ia menggunakan metode wind tunnel untuk memperoleh data pergerakan bola.
Hasilnya, secara sederhana desain baru pada Jabulani membuat laju bola meningkat, yang kemudian memunculkan efek knuckle-ball. Di mana pergerakan bola cenderung liar dan sering berubah arah seperti zig-zag.
Mehta menambahkan bahwa ketinggian stadion-stadion di Afrika Selatan turut memengaruhi laju bola. Selain itu, kepadatan udara yang lebih rendah membuat hambatan udara dan gaya angkat terhadap bola ikut berkurang.
Di tengah derasnya komentar dan kritik terhadap Jabulani, Diego Forlan justru terlihat nyaman dengan bola itu.
Forlan menjadi satu-satunya yang mampu menjinakkan bola Jabulani. Gol dari tendangan jarak jauhnya sampai membawa Timnas Paraguay ke semifinal.
Meski menuai kontroversi, Jabulani tetap menjadi salah satu bola paling ikonik sepanjang sejarah Piala Dunia. Desain unik dan kontroversinya membuat bola itu terus dikenang penggemar sepak bola dunia.
Kontroversi Jabulani juga memengaruhi pengembangan bola resmi turnamen berikutnya. Adidas kemudian menghadirkan desain baru seperti Brazuca untuk mengantisipasi hal yang sama terjadi kembali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....