Mengungkap Asal Usul Tradisi Sakral Masyarakat Tionghoa di Riau

  • 01 Jul 2026 16:19 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di pesisir timur Provinsi Riau, tepatnya di Kota Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir, terdapat sebuah tradisi budaya yang telah dikenal hingga mancanegara, yaitu Bakar Tongkang. Tradisi ini bukan sekadar atraksi wisata, melainkan sebuah ritual sakral yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta ungkapan rasa syukur atas kehidupan baru yang mereka peroleh di tanah Riau.

Setiap tahun, ribuan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri datang ke Bagan Siapi-api untuk menyaksikan prosesi yang telah menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan Provinsi Riau. Festival ini bahkan masuk dalam kalender pariwisata nasional karena keunikan sejarah dan nilai budayanya.

Menurut informasi yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Riau, asal-usul tradisi Bakar Tongkang bermula sekitar tahun 1826 ketika sekelompok perantau keturunan Hokkien dari Provinsi Fujian, Tiongkok Selatan, meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Rombongan tersebut berlayar menggunakan tiga buah kapal kayu atau tongkang. Dalam perjalanan panjang melintasi lautan, dua kapal dikabarkan tenggelam sehingga hanya satu tongkang yang berhasil melanjutkan pelayaran hingga mencapai pesisir timur Sumatra.

Konon, saat malam hari para pelaut melihat cahaya berkelap-kelip dari ribuan kunang-kunang di kawasan hutan bakau. Cahaya itu mereka yakini sebagai petunjuk menuju daratan yang aman. Mereka kemudian mendarat dan menetap di daerah yang kini dikenal sebagai Bagan Siapi-api.

Setelah memutuskan menetap, para pendatang membakar kapal terakhir yang membawa mereka ke tanah baru. Tindakan tersebut menjadi simbol bahwa mereka tidak akan kembali ke negeri asal dan siap membangun kehidupan baru di tempat yang telah memberikan harapan.

Peristiwa bersejarah itu kemudian dikenang melalui ritual Bakar Tongkang yang hingga kini masih dilaksanakan setiap tahun. Masyarakat membuat replika kapal kayu berukuran besar yang kemudian diarak keliling kota sebelum dibakar dalam sebuah prosesi yang penuh makna. Tradisi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Dewa Laut Kie Ong Ya yang dipercaya telah memberikan perlindungan selama perjalanan serta membawa mereka menuju tempat tinggal yang aman dan sejahtera.

Puncak acara terjadi ketika replika kapal dibakar. Masyarakat kemudian memperhatikan arah jatuh tiang utama kapal. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa setempat, arah jatuh tiang tersebut dipercaya menjadi pertanda mengenai sumber rezeki dan keberuntungan selama satu tahun ke depan.

Apabila tiang mengarah ke darat, usaha di sektor daratan diyakini akan berkembang, sedangkan jika mengarah ke laut dipercaya hasil dari sektor kelautan akan lebih baik. Selain menjadi kebanggaan masyarakat Tionghoa, Bakar Tongkang kini telah menjadi milik seluruh masyarakat Riau sebagai simbol keberagaman budaya yang hidup harmonis. Tradisi ini memperlihatkan bahwa warisan leluhur dapat terus dijaga sekaligus menjadi kekuatan dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....