Mengenal Alat Musik Komet di Istana Siak Sri Indrapura

  • 23 Jun 2026 20:16 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID,Pekanbaru - Di tengah kemegahan Istana Siak Sri Indrapura, tersimpan sebuah warisan seni yang hingga kini masih memikat perhatian wisatawan dan peneliti, yaitu alat musik Komet. Benda bersejarah ini bukan sekadar alat pemutar musik, melainkan simbol kemajuan, keterbukaan budaya, dan kejayaan Kesultanan Siak pada akhir abad ke-19.

Keberadaannya menjadi salah satu daya tarik utama wisata sejarah yang dikelola pemerintah daerah melalui sektor pariwisata Kabupaten Siak. Menurut informasi yang dipublikasikan melalui portal pariwisata dan berbagai keterangan dari pejabat bidang ekonomi kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Siak, Komet merupakan alat musik asal Jerman yang dibawa oleh Sultan Siak ke-11, Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, setelah melakukan lawatan ke Eropa pada akhir abad ke-19.

Alat musik tersebut kemudian menjadi salah satu koleksi istana yang paling berharga dan hingga kini masih tersimpan dengan baik. Kehadiran Komet di Istana Siak menunjukkan bahwa Kesultanan Siak tidak hanya berkembang dalam bidang pemerintahan dan perdagangan, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan seni dan teknologi dunia.

Sultan Syarif Hasyim dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap budaya Eropa. Selain membawa perabot dan ornamen istana dari Eropa, beliau juga membawa alat musik Komet yang pada masanya merupakan teknologi pemutar musik yang sangat modern.

Perpaduan budaya Melayu dengan pengaruh Eropa tampak jelas pada kehidupan istana. Musik klasik yang diputar melalui Komet menjadi bagian dari suasana kerajaan, memperlihatkan bahwa seni memiliki tempat penting dalam kehidupan Kesultanan Siak.

Komet merupakan alat pemutar musik sejenis gramofon yang menggunakan piringan baja sebagai media penyimpan lagu. Berbeda dengan gramofon biasa yang menggunakan piringan hitam, Komet memakai cakram baja berdiameter sekitar 90 sentimeter dan diputar secara manual menggunakan engkol serta sistem pegas.

Keistimewaan lainnya adalah jumlahnya yang sangat terbatas. Berbagai sumber menyebutkan bahwa alat musik ini dahulu hanya dibuat dua unit di dunia, satu berada di Jerman dan satu lagi di Siak.

Bahkan terdapat informasi bahwa unit yang berada di Jerman sudah tidak lagi berfungsi, sehingga Komet di Istana Siak menjadi salah satu koleksi paling berharga yang masih dapat dimainkan hingga kini.

Dahulu, Komet sering dimainkan untuk menghibur Sultan saat beristirahat maupun ketika menyambut tamu kehormatan yang datang ke istana. Dari alat musik ini mengalun karya-karya komponis dunia seperti Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven, dan Richard Strauss.

Alunan musik klasik tersebut menciptakan suasana yang tenang dan berwibawa di lingkungan kerajaan. Menurut keterangan yang dikutip dari pejabat Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Siak, Komet hingga kini masih sesekali dibunyikan pada momen tertentu, terutama saat menerima kunjungan tamu penting. Namun karena usianya yang telah mencapai lebih dari satu abad, alat musik ini dirawat dengan sangat hati-hati agar tetap lestari.

Saat ini, Komet menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kabupaten Siak. Para pengunjung yang datang ke Istana Siak tidak hanya menikmati kemegahan arsitektur istana yang memadukan gaya Melayu, Arab, dan Eropa, tetapi juga dapat menyaksikan secara langsung alat musik legendaris yang pernah mengiringi kehidupan para sultan.

Pemerintah Kabupaten Siak melalui sektor pariwisata terus mempromosikan keberadaan Komet sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah. Warisan seni ini menjadi bukti bahwa Kesultanan Siak pernah mencapai masa kejayaan yang tidak hanya diukur dari kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga dari apresiasi terhadap seni dan budaya dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....