Wisata Rumah Singgah Sultan Siak

  • 22 Okt 2025 14:18 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru : Suka Wisata Sejarah? Yuk, mampir ke Rumah Singgah Sultan Siak di Pekanbaru. Bangunan ini dulu dipakai Sultan Siak Sri Indrapura buat istirahat kalau lagi main ke Kota. Arsitekturnya Klasik khas Melayu, Full kayu, dan masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Dikutip dari wikipedia Indonesia, Wisata Rumah Singgah Sultan Siak. Rumah Singgah Sultan Siak adalah rumah milik Tuan Kadhi Kerajaan Siak, Zakaria yang berfungsi sebagai tempat persinggahan bagi Sultan Siak Sri Indrapura apabila beliau berkunjung ke Senapelan (Pekanbaru). Sultan Siak beserta pengiringnya beristirahat sejenak terlebih dahulu di rumah ini sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah Tuan Qodi lainnya di belakang Mesjid Raya Pekanbaru atau sekitar 1.000 kaki ke arah tenggara.

Bangunan ini berada di bawah jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah, sekarang bernama jembatan Siak III Kampung Bandar, Senapelan, Kota Pekanbaru, Riau. Berlokasi di Jalan Panglima Undan, rumah singgah Sultan Siak berjarak 20 m dari pinggir Sungai Siak.

Model bangunan rumah dihiasi dengan warna yang khas yaitu krem, kuning keemasan, serta biru dan masih dipertahankan seperti aslinya. Rumah berbentuk panggung ini terbuat dari kayu, beratapkan asbes dan pondasinya terbuat dari tiang. Saat ini, rumah Singgah Sultan Siak yang dibangun pada tahun 1928 ini menjadi objek wisata yang lumayan ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Kesultanan Siak Sri Indrapura Darul Ridzuan (Melayu: كسلطانن سياك سري اندراڤور) adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kesultanan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil putranya Sultan Mahmud Syah II Johor pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan takhta Kesultanan Johor.

Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke pulau Rupat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran di Sumatra Timur.

Pasang surut, kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....