Tradisi Penebangan Kayu Untuk Pembuatan Sampan Jalur Kuansing

  • 21 Apr 2025 09:21 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru : Pacu Jalur adalah tradisi lomba perahu panjang yang telah mendarah daging dalam budaya masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Di balik kemegahan festival dan semangat para pendayung, tersimpan proses panjang yang dimulai jauh dari sungai—di dalam rimba lebat tempat kayu pilihan ditebang untuk dijadikan jalur (sampan panjang).

Pembuatan sampan jalur bukan pekerjaan sembarangan. Kayu yang digunakan harus memiliki kualitas tinggi: kuat, tahan air, dan lentur. Jenis kayu yang paling sering dipilih adalah kayu meranti merah, kulim, atau suren. Kayu ini dipilih karena ukurannya yang besar dan daya tahannya terhadap air, sehingga mampu menahan tekanan saat lomba berlangsung.

Setiap jalur dapat memiliki panjang antara 25 hingga 40 meter dan bisa memuat 40 sampai 60 pendayung. Untuk itu, diperlukan batang kayu utuh yang besar dan lurus, sesuatu yang hanya bisa ditemukan di dalam hutan-hutan tua.

Menurut pemaparan Bapak Ujang yang ikut dalam penebangan kayu untuk membuat jalur bukan hanya soal teknis, dalam budaya local proses ini disertai dengan ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan roh penjaga hutan.

"Masyarakat percaya bahwa pohon besar yang akan ditebang memiliki “penunggu”, sehingga harus diminta izin terlebih dahulu melalui upacara kecil atau bacaan doa-doa adat," katanya, Senin (21/4/25).

Dijelaskannya, biasanya, satu tim akan berangkat ke dalam hutan selama berhari-hari untuk mencari pohon yang tepat. Setelah ditemukan dan mendapat izin dari tokoh adat, barulah proses penebangan dilakukan secara hati-hati. Kayu tersebut kemudian dibawa keluar hutan, sering kali melewati medan sulit.

Penebangan kayu untuk sampan jalur bukan hanya proses teknis, melainkan bagian dari warisan budaya yang kaya akan nilai spiritual dan kearifan lokal

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....