Tradisi Bakar Tongkang Warisan Budaya di Rokan Hilir

  • 10 Apr 2025 13:49 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru : Sektor pariwisata sekarang telah menjadi salah satu sektor andalan penunjang perekonomian Bagansiapiapiapi. Perayaan Tahun Baru Imlek (Sincia) di Bagansiapiapi, Rokan Hilir sangat meriah, terutama pada malam pergantian tahun baru.

Tahun Baru Imlek juga merupakan tradisi pulang kampung bagi orang Tionghoa yang merantau ke luar daerah untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Perayaan Imlek di Bagansiapiapi berlangsung 15 hari sampai malam Cap Go Meh.

Dikutip dari wikipedia Indonesia, Tradisi Bakar Tongkang Warisan Budaya Yang Berharga: Selama perayaan Tahun Baru Imlek, lampion beraneka bentuk dan ukuran menghiasi rumah-rumah penduduk, perkantoran, kelenteng dan vihara, bahkan di sepanjang jalan-jalan besar di pusat kota sehingga kota Bagansiapiapi seakan bermandikan cahaya lampion di malam hari. Hari ke-9 Imlek (Cue Kao) yang merupakan perayaan hari kelahiran Dewa Langit (Thi Kong) juga berlangsung sangat meriah di Bagansiapiapi.

Salah satu keunikan perayaan Tahun Baru Imlek di Bagansiapiapi adalah hadirnya aksesoris patung berbentuk hewan dari shio tahun tersebut yang dipajang di Jalan Perdagangan. Patung tersebut terutama terbuat dari material seperti kertas, bambu, kawat, kain, wol dan sebagainya. Kegiatan seperti ini baru dimulai pada perayaan Tahun Baru Imlek 2554/2003 M Shio Kambing.

Di samping itu, di Kelenteng Guan Gong yang terletak di Jalan Perniagaan, terdapat lampion berukuran raksasa berbentuk hewan shio dan karya klasik Tiongkok lainnya. Pada malam Cap Go Meh akan berlangsung Pawai Lampion dengan lampion-lampion yang unik dari berbagai kelenteng yang ada di Bagansiapiapi. Pawai Lampion ini sekaligus merupakan Lomba Lampion yang akan memilih lampion terindah, terunik dan terbagus.

Pada perayaan tersebut, ada satu tradisi yang menjadi magnet bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk hadir dan menyaksikannya secara langsung, yakni Ritual Bakar Tongkang.

Ritual Bakar Tongkang bertujuan untuk mengenang para leluhur orang Tionghoa dalam menemukan Bagansiapiapi dan sebagai wujud syukur kepada Dewa Ki Hu Ong Ya. Ritual Bakar Tongkang diadakan setiap tanggal 16 bulan kelima penanggalan Lunar (Imlek) setiap tahunnya.

Acara ini biasanya diadakan pada bulan tertentu dan menjadi salah satu acara tahunan yang paling dinantikan oleh masyarakat setempat.yang dalam bahasa Hokkian disebut "Go Ge Cap Lak". Ritual Bakar Tongkang ini bahkan masuk dalam iven pariwisata nasional peringkat ke-10 di Indonesia di mana jumlah kunjungan wisatawan mencapai 40 ribuan.

Bakar Tongkang memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Tradisi ini diyakini berasal dari para nelayan Tionghoa yang telah lama menetap di Bagansiapiapi. Mereka membawa tradisi ini dari kampung halaman mereka dan kemudian diadaptasi dengan budaya lokal.

Prosesi Bakar Tongkang biasanya diadakan dengan sangat meriah. Berikut beberapa tahapan yang biasanya dilakukan:

1. Pembuatan Tongkang: Tongkang yang akan dibakar dibuat dengan sangat teliti dan dihiasi dengan berbagai ornamen.

2. Prosesi Bakar: Tongkang yang telah selesai dibuat kemudian dibakar dengan diiringi oleh berbagai pertunjukan kesenian dan musik.

3. Pesta Rakyat: Setelah prosesi bakar, masyarakat setempat biasanya mengadakan pesta rakyat dengan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan kesenian, makanan khas, dan lain-lain.

Bakar Tongkang memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Bagansiapiapi. Tradisi ini diyakini sebagai simbol untuk:

a. Menghormati Dewi Laut: Bakar Tongkang diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Laut yang diyakini dapat memberikan keselamatan dan rezeki bagi para nelayan.

b. Menyambut Tahun Baru: Bakar Tongkang juga diyakini sebagai simbol untuk menyambut tahun baru dan membersihkan diri dari segala kesalahan.

Acara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi adalah sebuah tradisi unik dan menarik yang patut untuk dikunjungi. Dengan sejarah yang kaya dan prosesi yang meriah, acara ini menjadi salah satu acara tahunan yang paling dinantikan oleh masyarakat setempat. Mari kita lestarikan dan apresiasi tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya kita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....