Menelusuri Sejarah dan Keunikan Masjid Jamik Air Tiris

  • 06 Mar 2025 09:42 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru : Masjid Jami di Air Tiris adalah salah satu masjid tertua yang ada di Kampar, Riau.

Dibangun pada tahun 1901, mesjid ini masih berdiri kokoh sampai sekarang. Mesjid Jami Air Tiris dikenal oleh masyarakat sekitar akan keunikannya.

Masjid ini terletak di desa Tanjung Berulak, Pasar Usang, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau. Berjarak Lebih kurang 13 km dari Bangkinang yang merupakan Ibu kota Kabupaten Kampar dan berjarak lebuh kurang 52 km dari kota Pekanbaru, Riau.

Dikutip dari website Pesantren Babussalam, Masjid Jami Air Tiris dibangun atas prakarsa seorang ulama bernama Engku Mudo Songkal. Masjid Jami Air Tiris dibangun gotong royong dan sukarela oleh ‘Ninik Mamak Nan Dua Belas’, yaitu para ninik mamak dari berbagai suku yang ada di seluruh kampung.

Uniknya Masjid Jami Air Tiris dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan hanya menggunakan 40 tiang batang kayu. Tiang tersebut melambangkan jumlah 40 orang sebagai syarat mendirikan sholat Jumat berjamaah.

Pada tahun 2004, masjid ini masuk ke dalam kategori cagar budaya berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata karena memiliki nilai sejarah dan arsitekturnya yang unik.

Arsitektur bangunan Masjid Jami Air Tiris perpaduan budaya Melayu dan China dengan atap masjid tiga tingkat yang berbentuk limas. Seluruh bangunan masjid terbuat dari kayu termasuk atapnya dan di dinding masjid terdapat ukiran yang memiliki makna.

Di Masjid Jami Air Tiris juga terdapat batu berbentuk kepala kerbau yang terletak di dalam bak air di luar masjid. Menurut keterangan penjaga masjid, saat Masjid Jami dibangun, warga bergotong royong mencari batu besar di sungai untuk tapak tiang masjid. Warga kampung kemudian pergi ke sungai mencari 40 buah batu sondi untuk tapang tiang.

Saat semua batu dipasang, ada satu batu yang tidak tidak bisa ditegakan di atasnya. Setiap batang kayu diletakan, batu itu selalu ‘mengelak’.

Masyarakat yang kebingungan menanyakan kepada datuk yang merupakan tetua di kampung. Beliau menyarankan untuk mengasingkan batu tersebut, namun anehnya batu itu selalu berpindah tanpa ada yang memindahkannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....