Kabut Asap Kembali Muncul, DPRD Pekanbaru Buka Opsi PJJ jika Kondisi Memburuk
- 15 Sep 2026 11:04 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru kembali menjadi perhatian setelah kabut asap muncul kembali meski sebelumnya sempat berkurang akibat hujan. Pada Selasa 15 September 2026, kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Berdasarkan data Air Quality Index (AQI) pada pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara Pekanbaru berada di angka 232 AQI US dengan tingkat polutan utama PM2.5 mencapai 157 µg/m³. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan pencemaran udara yang berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah sekolah masih menjalankan pembelajaran tatap muka. Dinas Pendidikan juga melakukan pengaturan jam belajar agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan.
Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Muhammad Isa Lahamid, meminta pemerintah memastikan lingkungan belajar tetap aman bagi para siswa selama kualitas udara belum membaik. Menurutnya, aspek kesehatan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan pembelajaran.
“Kita meminta Dinas Pendidikan memperhatikan kondisi ini dengan serius. Yang paling penting adalah memastikan anak-anak sekolah tidak terdampak, baik saat berada di perjalanan maupun selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah,” ujar Isa Lahamid pada Selasa 15 September 2026.
Ia menilai indikator kualitas udara harus menjadi salah satu dasar dalam mengambil keputusan terkait pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Menurutnya, persoalan bukan hanya terkait durasi siswa berada di sekolah, tetapi juga bagaimana memastikan ruang belajar memiliki kondisi udara yang layak.
“Fasilitas sekolah juga perlu menjadi perhatian. Ruang kelas harus memiliki kondisi udara yang lebih baik agar proses belajar tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan siswa,” katanya.
Isa menyebut, apabila kondisi udara semakin memburuk, pemerintah memiliki sejumlah pilihan kebijakan, mulai dari penyesuaian waktu belajar, penghentian sementara kegiatan tatap muka, hingga penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
“Banyak opsi yang bisa dilakukan. Bisa dengan mengurangi jam belajar, menerapkan PJJ sementara, atau tetap melakukan pembelajaran di sekolah dengan dukungan fasilitas yang mampu menjaga kualitas udara di lingkungan belajar,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat terus memantau perkembangan kualitas udara dan mengambil langkah yang tepat agar aktivitas pendidikan tetap berjalan dengan tetap mengutamakan keselamatan serta kesehatan para siswa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....