Karhutla Kerumutan Meluas, Ratusan Personel Dikerahkan untuk Jinakkan Api

  • 23 Agt 2026 18:08 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, masih menjadi perhatian serius. Tim gabungan terus memperkuat operasi pemadaman dengan menambah personel dan peralatan, mengingat kebakaran terjadi di kawasan yang didominasi lahan gambut.

Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau M Edy Afrizal mengatakan pengerahan personel dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan. Sebanyak 15 personel BPBD dan Damkar Riau telah berada di lokasi untuk membantu tim yang lebih dulu melakukan pemadaman.

Kekuatan tersebut diperkuat Manggala Agni dengan dua regu, masing-masing 12 personel dari Daops Rengat dan 13 personel BKO Daops Siak. Tambahan pasukan juga kembali dikirim untuk memperbesar kekuatan tim di lapangan. “Besok kita tambah lagi satu regu dari Daops Rengat sebanyak 12 orang. Selain itu, ada 30 personel dari Polda Riau, 20 personel dari Kodam,” kata Edy, Sabtu 22 Agustus 2026.

Besarnya kekuatan yang dikerahkan tidak lepas dari luasnya kawasan yang terdampak. Berdasarkan pemantauan dua hari sebelumnya, sekitar 270 hektare lahan di Kerumutan telah terbakar. Namun, angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah karena sejumlah titik api hingga kini belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.

Upaya pemadaman menghadapi medan yang cukup berat. Angin kencang membuat kobaran api mudah berpindah, sementara semak belukar dan pepohonan yang rapat menyediakan bahan bakar yang membuat api semakin sulit dijinakkan. Petugas juga menghadapi persoalan keterbatasan sumber air dan akses menuju titik kebakaran yang cukup jauh.

“Kesulitan kita memadamkan api karena anginnya kencang. Kemudian di lokasi banyak semak belukar dan pepohonan, sumber air juga sulit. Akses menuju lokasi cukup jauh, sekitar 500 meter dari akses yang bisa dilalui kendaraan,” ungkap Edy. Kondisi tersebut membuat kendaraan roda empat tidak bisa mencapai titik api sehingga petugas harus berjalan kaki membawa peralatan menuju lokasi.

Selain mengandalkan kekuatan darat, operasi udara turut digencarkan. Empat helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air ke kawasan yang terbakar. Meski membantu menekan kobaran, operasi udara belum mampu memadamkan seluruh areal karena fungsi utamanya lebih efektif untuk memblokir bagian kepala api agar tidak semakin meluas.

Edy menjelaskan tantangan terbesar berada pada karakteristik gambut yang kering. Api yang terlihat telah padam setelah disiram dari udara belum tentu benar-benar mati karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Karena itu, pemadaman harus dilanjutkan secara menyeluruh oleh tim darat agar bara di dalam gambut tidak kembali muncul dan memicu kebakaran baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....