Wamendiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Selesaikan Permasalahan Daerah
- 31 Jul 2026 15:40 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi melalui pembentukan konsorsium agar kontribusi kampus terhadap pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikan Fauzan dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Pimpinan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XVII Tahun 2026 yang digelar pada Jumat, 31 Juli 2026.
Menurut Fauzan, gagasan pembentukan konsorsium perguruan tinggi merupakan penerjemahan dari visi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam menempatkan kampus sebagai bagian penting dari penyelesaian berbagai persoalan pembangunan.
“Ini merupakan suatu pemikiran yang menerjemahkan visi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu bagaimana kampus-kampus dapat berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat,” kata Fauzan.
Ia menjelaskan, kontribusi perguruan tinggi tidak akan memberikan dampak yang maksimal apabila dilakukan sendiri-sendiri. Karena itu, kampus perlu menyatukan kekuatan, sumber daya, kepakaran, dan program agar mampu menghasilkan solusi yang lebih nyata.
Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini bersifat kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu perguruan tinggi atau satu bidang keilmuan saja.
“Ketika ingin berkontribusi, tentu tidak mungkin dilakukan satu per satu. Agar kontribusi itu benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada, kampus-kampus harus bersatu,” ujarnya.
Kolaborasi antarkampus tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung dalam bentuk kerja sama administratif, tetapi juga diwujudkan melalui program penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi, pengembangan teknologi, serta pemberdayaan ekonomi dan sosial yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Anggota Komisi X DPR RI, Karmila Sari, menyambut baik gagasan pembentukan konsorsium perguruan tinggi tersebut. Menurutnya, konsorsium dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat posisi perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
“Konsorsium ini sangat bagus. Selama ini kami di Komisi X juga melihat perkembangan perguruan tinggi negeri dan swasta yang masih belum sepenuhnya seimbang,” kata Karmila.
Ia menegaskan, perhatian terhadap peningkatan kualitas pendidikan tinggi tidak boleh hanya diberikan kepada perguruan tinggi negeri. Perguruan tinggi swasta juga memiliki peran besar dalam menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat dan mencetak sumber daya manusia di berbagai daerah.
“Dari Komisi X, kami tidak hanya memikirkan perguruan tinggi negeri, tetapi juga perguruan tinggi swasta. Keduanya harus sama-sama bergerak agar perguruan tinggi swasta tidak hanya berada di posisi tertinggal, tetapi perlahan dapat bertahan, berkembang, dan meningkatkan kualitasnya,” ujarnya.
Menurut Karmila, kolaborasi antarkampus dapat membuka peluang bagi perguruan tinggi swasta untuk berbagi sumber daya, tenaga ahli, fasilitas, pengalaman, dan jaringan. Dengan demikian, perguruan tinggi yang memiliki keterbatasan dapat tumbuh bersama perguruan tinggi lain yang telah memiliki kapasitas lebih kuat.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XVII, Nopriadi, mengatakan pihaknya telah melakukan identifikasi terhadap berbagai potensi yang dimiliki perguruan tinggi, mulai dari dosen, mahasiswa, bidang keilmuan, hingga program dan kegiatan yang dapat dikembangkan untuk membantu pemerintah daerah.
Identifikasi tersebut juga disesuaikan dengan persoalan yang dihadapi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, serta masyarakat di masing-masing wilayah.
“Kami telah mengidentifikasi potensi para dosen, mahasiswa, dan berbagai program yang ada, kemudian menyesuaikannya dengan persoalan-persoalan yang dihadapi pemerintah daerah,” kata Nopriadi.
Ia menjelaskan, hasil identifikasi tersebut akan menjadi dasar dalam membangun kolaborasi yang lebih terarah antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Program yang dikembangkan diharapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan hanya menjadi kegiatan rutin yang berhenti setelah program selesai.
Nopriadi berharap berbagai kerja sama yang telah dimulai dapat terus dilanjutkan dan diperkuat sepanjang tahun. Konsorsium perguruan tinggi diharapkan menjadi penghubung antara sumber daya akademik di kampus dan kebutuhan nyata yang dihadapi daerah.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki banyak tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang dapat berkontribusi dalam penyelesaian persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan pembangunan daerah.
Melalui konsorsium, perguruan tinggi dapat membagi peran berdasarkan bidang keunggulannya masing-masing. Kampus yang kuat dalam bidang kesehatan dapat membantu menyelesaikan persoalan layanan kesehatan masyarakat, sementara perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang ekonomi, teknologi, pertanian, pendidikan, dan sosial dapat berkontribusi sesuai kepakarannya.
Rakorpim LLDIKTI Wilayah XVII Tahun 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antarpimpinan perguruan tinggi sekaligus menyusun langkah bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi.
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk membangun sinergi antara pemerintah, DPR RI, LLDIKTI, perguruan tinggi negeri, dan perguruan tinggi swasta dalam mendorong pendidikan tinggi yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Dengan bersatunya perguruan tinggi dalam sebuah konsorsium, kampus diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi tersebut dinilai dapat memperkuat daya saing perguruan tinggi, memperluas manfaat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta mempercepat penyelesaian berbagai persoalan pembangunan di daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....