Bungkil Inti Sawit Jadi Harapan Baru Pakan Ternak Riau
- 24 Jul 2026 17:21 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Provinsi Riau memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor peternakan seiring dengan luasnya industri perkebunan kelapa sawit. Salah satu peluang yang terus dikaji adalah pemanfaatan bungkil inti sawit (BIS), yaitu limbah padat dari proses pengolahan minyak kelapa sawit yang memiliki kandungan nutrisi dan berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif bagi ternak.
Selama ini, biaya pakan menjadi salah satu tantangan utama bagi peternak karena harga pakan pabrikan relatif tinggi dan dapat memengaruhi biaya produksi. Kehadiran bahan baku lokal seperti bungkil inti sawit dinilai dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial sekaligus meningkatkan efisiensi usaha peternakan.
Dosen sekaligus Ketua Program Studi S1 Peternakan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Dr. Reno Martha, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pengembangan inovasi pakan berbasis bungkil inti sawit, khususnya untuk ternak ruminansia seperti sapi dan kambing.
Reno menjelaskan, timnya telah berhasil mengembangkan formulasi konsentrat dengan memanfaatkan bungkil inti sawit sebagai salah satu bahan utama. Namun, pengembangan tersebut saat ini mengalami kendala karena keterbatasan ketersediaan bahan baku.
"Kami sudah berhasil mengembangkan konsentrat untuk ternak ruminansia. Namun sekarang berhenti karena kami kesulitan mendapatkan bungkil inti sawit," ujar Reno pada Kami 23 Juli 2026.
Menurutnya, keberadaan bungkil inti sawit sebenarnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena Riau merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Dengan pengolahan yang tepat, limbah industri sawit tersebut dapat memiliki nilai tambah dan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan ternak.
Selain untuk ternak ruminansia, Reno mengatakan pihaknya juga tengah melakukan penelitian untuk mengembangkan pemanfaatan bungkil inti sawit sebagai bahan pakan ternak petelur.
"Kami juga sedang mengembangkan bagaimana bungkil inti sawit ini dapat menjadi salah satu bahan pakan untuk ternak petelur. Saat ini masih dalam tahap pengembangan di kampus," katanya.
Ia menilai, inovasi tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan pakan alternatif, tetapi juga membuka peluang terciptanya sistem peternakan yang lebih mandiri dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Menurutnya, apabila ketersediaan bahan baku dapat terjamin, maka pengembangan pakan berbasis bungkil inti sawit dapat memberikan dampak positif bagi peternak. Selain menekan biaya produksi, inovasi tersebut juga dapat mengurangi limbah industri kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Menanggapi pengembangan inovasi tersebut, Ketua Tim Perencanaan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau (DPKH Riau), Yuhendra menyambut baik upaya akademisi dalam mencari alternatif bahan pakan ternak berbasis potensi daerah.
Ia mengatakan, inovasi dari perguruan tinggi menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung kemajuan sektor peternakan di Riau. Menurutnya, hasil penelitian dan pengembangan dari kampus perlu didorong agar dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
"Ini merupakan berita baik untuk kita semua. Mudah-mudahan kita menemukan permulaannya sehingga inovasi ini bisa kita serap atau kita gunakan," ujar Yuhendra.
Yuhendra berharap sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha peternakan dapat terus diperkuat. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar berbagai inovasi yang telah dikembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pemanfaatan bungkil inti sawit sebagai bahan pakan ternak menjadi salah satu contoh bagaimana sektor perkebunan dan peternakan dapat saling mendukung. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah industri sawit dapat berubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi yang membantu meningkatkan produktivitas peternakan di Riau.
Ke depan, pengembangan pakan berbasis bahan lokal seperti bungkil inti sawit diharapkan mampu memperkuat kemandirian pakan ternak, menekan biaya produksi peternak, serta mendukung pertumbuhan sektor peternakan yang lebih berkelanjutan di Provinsi Riau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....