BBKSDA Riau Pantau Kesehatan Gajah Sumatra Berusia 60 Tahun

  • 06 Jul 2026 19:44 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan terhadap seekor Gajah betina di kawasan kantong gajah Tesso Tenggara, Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan. Kegiatan tersebut sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat mengenai kondisi satwa.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengatakan pemeriksaan dilakukan setelah muncul laporan mengenai gajah yang sering terlihat di sekitar kebun masyarakat dengan kondisi feses kasar, sesekali mengalami diare, dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Menurutnya, laporan tersebut perlu segera ditindaklanjuti untuk memastikan kondisi kesehatan satwa.

"Gajah betina ini diperkirakan telah berusia sekitar 60 tahun dan merupakan individu soliter yang telah lama memisahkan diri dari kelompoknya. Satwa ini sebelumnya pernah mendapatkan penanganan medis intensif pada Juli 2025 setelah mengalami kondisi tubuh kurus, lemah, gangguan saluran pencernaan, gigi yang telah aus, prolapsus ani, serta dehidrasi," kata Supartono, Senin 6 Juli 2026.

Setelah menjalani pengobatan pada tahun lalu, kondisi gajah menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Satwa kembali aktif bergerak dan menjauh dari areal hutan tanaman industri, serta beberapa kali terpantau mencari pakan di sekitar kebun masyarakat.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh Tim Medis BBKSDA Riau yang dipimpin drh. Rini Deswita. Saat dilakukan pembiusan, gajah diketahui tetap berada dalam posisi berdiri serta menunjukkan perilaku lincah, agresif, dan cenderung menyerang apabila didekati manusia.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi tubuh gajah mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan saat pertama kali ditangani pada Juli 2025. Berat badannya kini diperkirakan mencapai sekitar 2.600 kilogram dengan lingkar dada 340 sentimeter dan tinggi badan 230 sentimeter, serta tidak ditemukan adanya luka maupun cedera pada tubuh satwa," ujar drh. Rini.

Menurut Rini, tim medis menemukan adanya penurunan fungsi otot anus atau anismus yang menyebabkan feses sering menggantung sehingga menimbulkan aroma tidak sedap. Selain itu, kondisi gigi yang telah aus akibat faktor usia membuat proses pengunyahan pakan berserat kasar tidak berlangsung sempurna sehingga feses masih terlihat kasar.

"Karena keterbatasan fungsi gigi tersebut, gajah cenderung memilih pakan yang lebih lunak seperti ubi, rumput, umbut, dan batang pisang. Tim juga memberikan terapi berupa obat-obatan suportif serta cairan infus untuk membantu menjaga kondisi fisiologis satwa, dan secara umum hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi kesehatannya baik serta stabil," jelasnya.

Supartono mengatakan BBKSDA Riau akan terus melakukan pemantauan rutin terhadap individu gajah tersebut mengingat usianya yang telah lanjut. Penurunan fungsi beberapa organ dinilai merupakan proses biologis yang wajar selama nafsu makan tetap baik, kondisi tubuh terjaga, dan satwa tidak mengalami stres.

"Kami berharap gajah ini masih dapat terus bertahan dan menjalani kehidupannya secara alami di habitatnya. Kami juga mengajak masyarakat untuk menjaga habitat satwa liar, tidak melakukan perburuan maupun perdagangan ilegal, serta segera melaporkan kepada aparat setempat atau menghubungi Call Center BBKSDA Riau apabila menemukan satwa liar yang memerlukan penanganan," tutup Supartono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....