Harga Pakan Meroket, Peternak Ayam Kampar Desak Pemerintah Segera Turun Tangan
- 12 Jun 2026 16:45 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Para peternak ayam petelur di Kabupaten Kampar, Riau, saat ini tengah menghadapi kondisi dilematis. Mereka harus berjuang menghadapi fenomena penurunan harga telur di pasaran akibat kelebihan pasokan (oversupply), di tengah situasi harga pakan ternak yang justru melonjak tajam.
Salah seorang peternak ayam petelur di Kampar, Indra Habibie, mengungkapkan bahwa melimpahnya stok telur di pasaran membuat para peternak kesulitan menjaga kestabilan harga. Kondisi ini diperparah karena Provinsi Riau belum memiliki asosiasi mandiri yang mengatur regulasi harga, sehingga peternak lokal masih bergantung pada patokan harga dari luar daerah.
"Untuk hari ini harga telur itu jauh di bawah harga biasanya, dikarenakan stok telur itu sangat banyak melimpah. Rilis penetapan harga itu dikeluarkan oleh asosiasi ayam petelur Payakumbuh, karena kita di Riau belum ada asosiasi itu. Kita mengikuti acuan harga dari Payakumbuh," ujar Indra pada Kamis 11 Juni 2026.
Akibat pasokan yang terus bertambah setiap hari pasca-panen, hukum pasar pun terjadi hingga memicu terjadinya perang harga di lapangan.
"Nyatanya hari ini, karena stok telur itu melimpah, setiap hari bertambahnya jumlah telur yang dipanen, jadi stok banyak, orang perang harga. Contoh misalnya di rilis harga itu sekarang di harga Rp43.000 atau Rp45.000, nyatanya ada yang jual di bawah Rp40.000. Jadi para peternaknya sekarang kewalahan untuk menjual telur itu," tambahnya.
Kondisi terjepit ini semakin terasa berat lantaran harga pakan ayam juga mengalami kenaikan signifikan, dari yang semula berada di kisaran Rp360.000 per sak kini telah menembus angka di atas Rp400.000.
| Baca juga: Pemkab Inhil Gelar HLM Kendalikan Inflasi |
Melihat situasi yang kian memberatkan operasional peternak lokal, Asril, yang juga merupakan peternak ayam petelur di Kabupaten Kampar, berharap Pemerintah Provinsi Riau dapat mengambil langkah nyata. Ia membandingkan kebijakan Riau dengan wilayah tetangga (Sumatera Barat) yang dinilai lebih berpihak dan memberikan jaring pengaman bagi para peternak setempat.
"Itu masalah, dan juga biasanya peternak di Sumbar itu mendapat subsidi dari pemerintah provinsi. Dari subsidi itu bertumpu dalam bentuk subsidi pakan. Subsidi pakan, umpamanya harga pakan itu Rp410.000, jadi disubsidi oleh pemerintah Rp10.000 per saknya," kata Asril.
Melalui perbandingan tersebut, Asril mewakili para peternak lokal meminta agar Pemprov Riau turut memberikan kontribusi nyata guna menjaga keberlangsungan usaha peternakan rakyat di Riau.
"Jadi kami juga meminta dari provinsi adalah sumbangsihnya sedikit atau banyaknya kepada peternak yang ada di Provinsi Riau," harapnya.
Para peternak berharap, intervensi pemerintah baik melalui pembentukan asosiasi daerah maupun pemberian subsidi pakan dapat segera direalisasikan agar fluktuasi harga dapat ditekan dan kerugian peternak tidak semakin membengkak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....