Nyadran Bukan Sekadar Tradisi, tapi Penguat Kebersamaan

  • 02 Mar 2026 10:30 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tradisi Sadranan atau Nyadran bukan sekadar ritual tahunan menjelang Ramadan, tetapi menjadi momentum spiritual dan sosial untuk memperkuat kebersamaan serta menghormati leluhur. Hal ini mengemuka dalam program Obrolan Komunitas Pro 4 yang menghadirkan tokoh masyarakat Jawa, Kawit, Senin pagi, 2 Maret 2026.

Dalam dialog tersebut, Kawit menjelaskan Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang umumnya dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan. Kegiatan ini biasanya diawali dengan ziarah kubur, membersihkan makam leluhur, doa bersama, serta kenduri atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan.

“Nyadran bukan hanya tentang ziarah, tetapi juga tentang mengingat asal-usul dan mempererat hubungan antarsesama. Di situ ada nilai penghormatan kepada orang tua dan leluhur, sekaligus memperkuat silaturahmi,” ujarnya.

Secara historis, Nyadran berkembang di Pulau Jawa sebagai bentuk akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam. Tradisi ini memadukan penghormatan kepada leluhur dengan doa-doa dan tahlil sesuai ajaran agama, sehingga tetap relevan dengan kehidupan masyarakat Muslim Jawa hingga kini.

Menurut Kawit, di tengah arus modernisasi dan gaya hidup yang semakin individualistis, nilai gotong royong dalam Nyadran justru semakin penting untuk dihidupkan kembali. Ia menilai tradisi tersebut menjadi ruang pertemuan sosial yang memperkuat solidaritas warga.

“Sekarang orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Nyadran menjadi momen untuk berhenti sejenak, berkumpul, berbagi makanan, dan berbagi doa. Itu yang perlu dijaga,” katanya.

Dalam perbincangan juga dibahas tantangan pelestarian tradisi di era digital. Kawit mengingatkan agar generasi muda tidak hanya menjadikan Nyadran sebagai konten media sosial, tetapi memahami makna spiritual dan sosial yang terkandung di dalamnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dan komunitas dalam mengenalkan tradisi kepada anak-anak sejak dini. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan secara seremonial, tetapi perlu disertai pemahaman nilai dan filosofi yang mendalam.

Program Obrolan Komunitas tersebut sekaligus mengajak pendengar untuk merefleksikan kembali makna tradisi dalam kehidupan masa kini. Bahwa di tengah perubahan zaman, nilai menghormati leluhur, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kebersamaan tetap relevan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....