Program Peremajaan Kelapa di Inhil Terhambat Masalah Infrastruktur

  • 27 Feb 2026 08:45 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Program peremajaan kelapa (replanting) yang digalakkan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dinilai belum mencapai hasil yang maksimal. Anggota DPRD Riau, Ikbal Sayuti, mengungkapkan salah satu hambatan utama keberhasilan program tersebut adalah masalah infrastruktur perkebunan kelapa yang belum tertangani dengan baik, khususnya terkait pengelolaan air dan saluran irigasi.

Ikbal menjelaskan masalah replanting kelapa di Inhil bukan hanya terfokus pada ketersediaan bibit, namun juga mencakup masalah lahan yang digunakan untuk penanaman. Banyak area perkebunan kelapa yang terdampak oleh banjir akibat kerusakan tanggul dan buruknya sistem tata kelola air.

"Meski Inhil dikenal sebagai penghasil kelapa terbesar di dunia, potensi besar ini belum dapat sepenuhnya dimanfaatkan oleh petani. Banyak lahan kelapa yang tergenang banjir akibat sistem pengairan yang tidak memadai," ungkap Ikbal pada hari Rabu 25 Februari 2026.

Menurutnya, meskipun program peremajaan kelapa melibatkan pemberian bibit dan bantuan lainnya, masalah utama yang dihadapi oleh petani kelapa di Inhil lebih kompleks. Selain masalah bibit, infrastruktur perkebunan, terutama terkait pengelolaan air, harus menjadi fokus utama untuk memastikan keberhasilan program tersebut.

Berdasarkan pantauan, banyak lahan perkebunan kelapa yang terendam banjir karena tanggul yang rusak dan sistem saluran air yang tidak berfungsi dengan optimal. Oleh karena itu, Ikbal meminta agar pemerintah memprioritaskan perbaikan infrastruktur air sebelum menyalurkan bibit kelapa baru.

"Jika tanggul dan saluran air tidak diperbaiki terlebih dahulu, memberikan bibit kelapa baru hanya akan sia-sia. Bahkan, menebang pohon kelapa yang sudah tua saja tidak akan cukup. Infrastruktur air harus diperbaiki agar program ini dapat berhasil," jelasnya.

Ikbal juga menyatakan bahwa ia bersama rekan-rekan Komisi II DPRD Riau telah menemui pihak Direktorat Jenderal Perkebunan untuk membahas efektivitas program replanting kelapa. Dalam rencana tersebut, akan ada 1 juta bibit yang dialokasikan untuk lahan seluas sekitar 27 ribu hektare. Namun, Ikbal merasa angka tersebut tidak realistis dengan kondisi yang ada di lapangan, karena banyak lahan yang masih membutuhkan perbaikan infrastruktur.

Ia juga membandingkan program peremajaan kelapa dengan peremajaan kelapa sawit, yang menurutnya lebih mudah dilakukan karena lahan sawit umumnya dalam kondisi baik.

"Peremajaan kelapa sawit lebih sederhana, karena hanya tanaman yang sudah tua yang perlu diganti. Sementara itu, untuk kelapa, jika infrastuktur air tidak dibenahi, program peremajaan ini tidak akan berhasil," tuturnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....