Tari Zapin Jadi Identitas dan Potensi Pariwisata Riau
- 11 Jan 2026 11:31 WIB
- Pekanbaru
KBRN, Pekanbaru: Tari Zapin dinilai bukan hanya sebagai bentuk ekspresi seni tradisional Melayu, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya sekaligus memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di Provinsi Riau. Di tengah arus modernisasi, pelestarian Zapin dianggap semakin penting agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Datuk Seri Raja Marjohan Yusuf, menegaskan keberagaman budaya yang dimiliki Riau seharusnya menjadi kekuatan pemersatu masyarakat.
Menurutnya, setiap elemen masyarakat memiliki kewajiban untuk saling menghargai budaya satu sama lain, tanpa harus kehilangan jati diri budaya masing-masing. Nilai-nilai kearifan lokal perlu terus dijaga agar generasi muda tetap memiliki rasa bangga terhadap identitas daerahnya.
“Di tengah tantangan zaman yang rawan memicu perpecahan, merawat budaya menjadi sangat penting. Kita bisa menghormati budaya lain, tetapi tetap harus menjaga dan mengembangkan budaya sendiri,” ujar Marjohan, Jumat (9/1/2026).
Marjohan mencontohkan tari Zapin sebagai salah satu warisan budaya Melayu yang hingga kini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Zapin kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari acara pernikahan, upacara adat, hingga perayaan hari besar keagamaan dan budaya.
Ia menilai, Zapin tidak hanya memiliki nilai estetika seni, tetapi juga mengandung pesan moral dan religius yang kuat. Nilai-nilai tersebut menjadikan Zapin sebagai media yang efektif dalam menanamkan ajaran budaya Melayu kepada generasi muda.
“Zapin yang sering tampil dalam kegiatan adat dan pernikahan perlu terus dikembangkan agar semakin membumi di masyarakat,” katanya.
Selain gerak tari, Marjohan juga menyoroti kekuatan visual Zapin yang tercermin dari busana para penarinya. Pakaian tradisional Melayu yang dikenakan dinilai sarat dengan makna simbolik, mencerminkan kesopanan, keanggunan, dan nilai budaya yang luhur.
Untuk penari laki-laki, penggunaan baju cekak musang dan songkok melambangkan kewibawaan serta kesantunan. Sementara penari perempuan mengenakan kebaya labuh kekek yang dipadukan dengan selendang dan hiasan kepala, mencerminkan kehalusan budi dan keindahan budaya Melayu.
“Busana Zapin bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki makna. Ketika masyarakat tertarik membeli atau menggunakan pakaian tersebut, secara tidak langsung hal itu juga membuka ruang ekonomi bagi para pengrajin dan pelaku seni lokal,” ungkap.
Ia menambahkan, jika dikemas secara kreatif dan berkelanjutan, tari Zapin dapat menjadi daya tarik wisata unggulan yang memberi dampak ekonomi berantai bagi masyarakat.
“Dengan menjaga Zapin, kita tidak hanya mempertahankan jati diri budaya Riau, tetapi juga membuka peluang besar bagi pariwisata budaya. Wisatawan tertarik datang, pelaku usaha lokal mendapat manfaat, dan kesenian Riau semakin dikenal luas,” ujar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....