Puasa Sebagai Pengendalian Diri dan Fitrah Seluruh Makhluk
- 27 Feb 2026 11:32 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Puasa bukan hanya praktik ibadah manusia, tetapi juga bagian dari fitrah kehidupan. Dijelaskan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual sekaligus naluriah, namun manusia memiliki keistimewaan karena berpuasa dengan kesadaran dan pilihan.
“Dalam berpuasa ini, salah satu poin utama adalah pengendalian. Pengendalian diri terhadap hawa nafsu yang di situ berpotensi segala macam maksiat, mulai yang kecil sampai yang besar, dan juga berpotensi kepada lahirnya dosa-dosa.” jelas Prof. Dr. Saktioto, M.Phil. yang merupakan Dewan Penasihat ICMI Orwil Riau, dalam program Tanya Ustad Pro 2 RRI Pekanbaru, Kamis, 26 Februari 2026.
Selain manusia, puasa juga terjadi pada makhluk lain sebagai naluri. Jika diambil contoh dalam sisi makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan, maka kita lihat hewan itu naluriahnya, yang insting yang dimanfaatkan. Tidak ada pilihan lain, bersifat deterministik.
Prof. Dr. Saktioto, M.Phil. memberi contoh hewan yang berpuasa secara alami, seperti ayam saat mengeram, kucing ketika sakit, hingga beruang kutub dan burung migrasi.
“Tumbuhan juga begitu. melakukan puasa, tidak melakukan fotosintesis, tidak melakukan proses perubahan karbohidrat menjadi gula. Itu dalam per waktu yang tidak satu dua hari, berminggu-minggu.” jelasnya.
Menurutnya, hal ini menunjukkan puasa merupakan mekanisme alamiah kehidupan. Namun manusia memiliki akal dan akhlak yang membedakannya dari makhluk lain. Karena itu, puasa menjadi sarana peningkatan keimanan dan kualitas moral. Manusia dapat memilih untuk memperkuat iman melalui puasa atau justru melemahkannya.
Ia juga menyoroti pentingnya keikhlasan dalam beribadah. Keikhlasan bukan hanya karena Allah, tetapi kehati-hatian apakah amal benar-benar diterima. Analogi tamu yang dimuliakan menjadi gambaran bagaimana seorang hamba seharusnya menjaga kualitas ibadahnya.
Menurutnya, puasa di masa Rasulullah dijalankan dengan penuh semangat bahkan dalam kondisi perang. Sebaliknya, sebagian manusia kini justru mengurangi aktivitas karena merasa berpuasa. Padahal puasa seharusnya memperkuat semangat, disiplin, dan pengendalian diri.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan sering membuat manusia lalai dan lebih suka mempertanyakan daripada menjalankan. Karena itu, kesempatan hidup harus dimanfaatkan untuk memperbanyak amal dan memperkuat iman. Dengan demikian, puasa menjadi sarana mendidik diri menuju ketakwaan yang sesungguhnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....