Kunci Utama Makna Puasa adalah Keimanan

  • 27 Feb 2026 09:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Ibadah puasa memiliki beragam bentuk, mulai dari yang singkat hingga berhari-hari, dari yang ringan hingga penuh perjuangan. Namun hakikat ibadah bukan semata rutinitas yang dijalankan setiap tahun.

Hal ini disampaikan Prof. Dr. Saktioto, M.Phil., Dewan Penasihat ICMI Orwil Riau, dalam program Tanya Ustad Pro 2 RRI Pekanbaru, Kamis, 26 Februari 2026. Menurutnya, banyak umat telah terbiasa menjalankan puasa, tetapi esensinya bukan sekadar aktivitas lahiriah.

“Ada amalan ibadah itu yang dilakukan dalam waktu yang singkat, juga ada amalan ibadah itu dilakukan dalam waktu yang berhari-hari, juga ada amalan ibadah itu yang dilakukan dengan perjuangan yang berat, tapi juga ada yang ringan. Namun rutinitas ibadah itu sebenarnya bukan dilihat daripada amal ibadah, karena muara dari semua itu adalah ketakwaan dan janji Allah untuk surga.” ungkap Prof. Dr. Saktioto, M.Phil. via zoom meeting.

Ia menekankan bahwa pertanyaan mendasar manusia adalah tentang kelayakan menjadi penghuni surga. Bahkan menurutnya, terdapat kisah hamba yang masuk surga karena amal sederhana.

“Misalnya, ada hamba Allah yang bergembira di dalam surga ketika dia merasakan amal ibadah yang tidak terlalu banyak, tapi dia masuk surga. Ternyata diketahui ia masuk surga karena membuang duri atau ranjau yang ada di jalan yang menjadi lintasan manusia yang melewati jalan itu.” jelas Prof. Dr. Saktioto, M.Phil.

Ia menambahkan, manusia tidak pernah tahu dari pintu mana akan masuk surga. Karena itu, keimanan menjadi fondasi utama dalam beribadah.

Puasa sendiri memiliki tujuan akhir ketakwaan sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa iman yang kuat akan melahirkan kehati-hatian, rasa takut, cinta, harap, dan ketaatan kepada Allah. Dari sinilah kesungguhan beribadah terbentuk secara utuh.

Ia juga mengingatkan bahwa amal ibadah pada dasarnya memperkuat iman, bukan semata menjadi tiket masuk surga. Dalam sejarah, bahkan ada orang yang masuk surga karena kekuatan iman meski amal lahiriahnya tidak banyak. Karena itu, puasa seharusnya dipahami sebagai jalan memperdalam keimanan, bukan sekadar menjalankan kewajiban.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....