Makna Takjil Ramadan, Dari Bahasa hingga Tradisi

  • 21 Feb 2026 13:36 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Istilah takjil begitu akrab terdengar setiap Ramadan. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa kata ini secara harfiah bukanlah nama makanan, melainkan bermakna “menyegerakan” berbuka puasa. Seiring waktu, terjadi pergeseran makna di Indonesia, dari kata kerja menjadi kata benda yang merujuk pada hidangan pembatal puasa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takjil diartikan sebagai mempercepat berbuka puasa. Kata ini berakar dari bahasa Arab ‘ajila yang berarti menyegerakan. Artinya, secara esensial takjil adalah anjuran untuk tidak menunda waktu berbuka ketika azan Magrib berkumandang.

Di Indonesia, istilah takjil kemudian dipahami sebagai makanan atau minuman ringan yang dikonsumsi saat berbuka. Biasanya berupa hidangan manis seperti kolak pisang, sup buah, es campur, kurma, atau jajanan tradisional lainnya. Penggunaan istilah ini pun bersifat musiman, populer hanya selama bulan Ramadan.

Dalam konteks yang lebih luas, takjil sering disamakan dengan iftar. Padahal, keduanya memiliki perbedaan makna. Iftar secara harfiah berarti berbuka puasa, mencakup seluruh rangkaian kegiatan berbuka, termasuk santap makanan utama setelah salat Magrib. Dengan demikian, takjil sebenarnya adalah bagian dari proses iftar, bukan keseluruhannya.

Jejak historis penggunaan istilah takjil di Indonesia dapat ditelusuri dalam catatan Snouck Hurgronje melalui bukunya De Atjehers. Dalam laporan kunjungannya ke Aceh pada tahun 1891–1892, ia mencatat tradisi masyarakat yang menyiapkan menu berbuka puasa di masjid, seperti ie bu peudah atau bubur pedas, untuk disantap bersama.

Di ranah budaya lokal, istilah takjil memiliki padanan berbeda. Dalam bahasa Minang, misalnya, dikenal istilah pabukoan. Bahkan terdapat tradisi maanta pabukoan, yakni kebiasaan menantu perempuan mengantarkan hidangan berbuka kepada mertua sebagai bentuk penghormatan dan silaturahmi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa takjil tidak sekadar soal makanan manis pembatal puasa. Ia menyimpan nilai sosial, historis, dan kultural yang berkembang dalam masyarakat. Dari anjuran menyegerakan berbuka hingga menjadi simbol kebersamaan Ramadan, makna takjil terus bertransformasi mengikuti konteks zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....