Smart Spending Bukber : Tetap Eksis tanpa Kantong Menipis

  • 17 Feb 2026 15:21 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tradisi buka puasa bersama atau "bukber" di bulan Ramadan 2026 kini mulai bertransformasi seiring dengan menguatnya gaya hidup smart spending di kalangan masyarakat Indonesia. Menghadapi potensi lonjakan harga pangan di awal tahun, warga tidak lagi sekadar mengejar tempat yang mewah, melainkan lebih memprioritaskan nilai efisiensi dan kebersamaan.

Tren ini mencerminkan kesadaran finansial yang meningkat, di mana kegiatan sosial tetap berjalan tanpa harus mengorbankan stabilitas tabungan pribadi. Salah satu strategi yang tengah populer adalah pemanfaatan promo pembayaran digital dan program loyalitas.

Berdasarkan data pemantauan ekonomi digital dari laman Bank Indonesia (Bi.go.id), penggunaan QRIS dan fintech diprediksi akan terus meningkat pesat selama Ramadan karena banyaknya program diskon serta cashback yang ditawarkan oleh perbankan nasional. Langkah ini menjadi kunci bagi para pemburu kuliner untuk tetap mendapatkan hidangan berkualitas dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Selain mengandalkan diskon, metode "Bukber Mandiri" atau potluck kini kembali naik daun. Banyak komunitas dan kelompok pertemanan yang memilih mengadakan buka puasa di rumah atau ruang terbuka publik dengan membawa makanan masing-masing. Hal ini sejalan dengan anjuran ketahanan pangan dari Badan Pangan Nasional (Badanpangan.go.id) yang mendorong konsumsi pangan lokal yang beragam dan bergizi, sekaligus mengurangi pemborosan makanan (food waste) yang sering terjadi di restoran saat jam buka puasa.

Pakar keuangan menyarankan agar anggaran bukber ditetapkan sejak awal bulan Ramadan agar tidak mengganggu pos pengeluaran lainnya. Dengan mengalokasikan dana khusus, masyarakat dapat memilih frekuensi bukber yang ideal tanpa merasa terbebani secara mental. Smart spending bukan berarti membatasi diri dari pergaulan, melainkan mengelola prioritas agar momen silaturahmi tidak berubah menjadi sumber stres finansial pasca-lebaran nanti.

Pihak pengelola pusat perbelanjaan dan restoran juga merespons tren ini dengan menyediakan paket "Early Bird" atau reservasi lebih awal dengan harga khusus. Strategi ini membantu pelaku usaha untuk mengatur arus kunjungan sekaligus memberikan kepastian harga bagi konsumen. Diskusi mengenai pemilihan tempat bukber yang ramah kantong pun kini mendominasi percakapan di berbagai grup pesan singkat dan media sosial sejak pertengahan Februari ini.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM juga terus mendorong keterlibatan UMKM kuliner dalam momentum Ramadan. Melalui siaran informasi di Kemenkopukm.go.id, pelaku usaha mikro diharapkan dapat menawarkan paket berbuka yang kompetitif namun tetap sehat. Dukungan terhadap UMKM ini secara tidak langsung membantu masyarakat mendapatkan alternatif tempat bukber yang lebih ekonomis dibandingkan dengan restoran berskala besar di pusat kota.

Dengan pendekatan yang lebih cerdas dalam berbelanja dan bersosialisasi, Ramadan 2026 diharapkan menjadi momentum titik balik bagi budaya konsumerisme di Indonesia. Keberhasilan dalam menjalankan smart spending saat bukber membuktikan bahwa kemandirian finansial dapat berjalan beriringan dengan ketaatan beribadah dan kehangatan silaturahmi. Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai ajang untuk melatih pengendalian diri, termasuk dalam mengelola harta benda yang kita miliki.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....