Striker Irak Aymen Hussein Ditahan di Bandara, Iran Kritik Kebijakan Visa AS
- 08 Jun 2026 08:53 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Tijuana - Euforia menuju Piala Dunia 2026 mulai terasa di Amerika Utara. Namun, di balik persiapan teknis dan kedatangan tim peserta, sejumlah persoalan terkait kebijakan imigrasi Amerika Serikat justru menjadi sorotan menjelang bergulirnya turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Tim nasional Irak menjadi salah satu yang mengalami kendala saat tiba di Amerika Serikat. Penyerang andalan mereka, Aymen Hussein, dilaporkan sempat ditahan dan menjalani pemeriksaan selama hampir tujuh jam di Bandara Internasional O'Hare, Chicago, setelah mendarat bersama rombongan tim pada Sabtu dini hari waktu setempat.
Seorang pejabat olahraga Irak yang memiliki kedekatan dengan tim nasional mengatakan telepon seluler Hussein diperiksa oleh petugas imigrasi sebelum pemain berusia 30 tahun itu akhirnya diizinkan masuk ke wilayah Amerika Serikat. Hingga kini, Federasi Sepak Bola Irak belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Tidak hanya Hussein, fotografer tim nasional Irak, Talal Salah, juga menjalani pemeriksaan selama lebih dari 10 jam. Namun berbeda dengan sang striker, Talal akhirnya ditolak masuk ke Amerika Serikat dan harus kembali setelah proses pemeriksaan selesai.
Kendati demikian, kedatangan skuad Irak tetap disambut antusias para pendukungnya. Sejumlah suporter terlihat memadati area bandara untuk menyambut para pemain dengan membawa bendera nasional dan meminta foto bersama. Irak sendiri akan tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak menjalani debutnya 40 tahun lalu.
Aymen Hussein menjadi salah satu pemain kunci dalam perjalanan Irak menuju putaran final. Gol yang dicetaknya pada babak kualifikasi membantu memastikan langkah negaranya ke Piala Dunia 2026. Di turnamen nanti, Irak tergabung di Grup I bersama Prancis, Senegal, dan Norwegia.
Sementara itu, persoalan berbeda dihadapi Iran. Tim nasional negara tersebut memilih berkumpul di Kota Tijuana, Meksiko, yang berada tidak jauh dari perbatasan Amerika Serikat. Langkah itu dilakukan di tengah ketegangan diplomatik terkait proses penerbitan visa menjelang Piala Dunia.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengungkapkan bahwa skuad Iran memang telah memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat untuk mengikuti turnamen. Namun, menurutnya, izin tersebut baru diberikan satu hari sebelum pertandingan pertama sehingga memunculkan kritik dari pihak Iran.
"Kami tidak tahu sampai kapan sikap menghalangi dari Amerika akan berlanjut. Apa yang dilakukan Amerika mencerminkan niat buruk dan tidak adanya kesetaraan di antara tim peserta," kata Taj seperti dikutip media Iran.
Pemerintah Amerika Serikat membantah tudingan tersebut. Seorang pejabat administrasi AS menyatakan seluruh visa yang diperlukan bagi atlet dan staf pendukung Iran telah diterbitkan sesuai ketentuan.
Namun, pejabat itu menegaskan pemerintah AS tetap menerapkan pemeriksaan keamanan secara ketat. Situasi ini menambah dimensi politik dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah mempertemukan negara tuan rumah dengan peserta yang negaranya masih berada dalam kondisi konflik aktif.
Terlepas dari berbagai tantangan nonteknis tersebut, Irak dan Iran tetap fokus mempersiapkan diri menghadapi persaingan di lapangan. Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru, Belgia, dan Mesir pada fase grup, sementara Irak akan berusaha menciptakan kejutan saat berhadapan dengan Prancis, Senegal, dan Norwegia dalam upaya mereka menorehkan sejarah di Piala Dunia 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....