Menteri Rachmat Pambudy Dorong Revitalisasi Kemitraan Sawit Berbasis NES 2026
- 08 Agt 2026 20:49 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy pada penutupan Sawit Indonesia Expo (SIexpo) & Conference 2026, Sabtu 8 Agustus 2026. Ia menegaskan pentingnya menata kembali kemitraan perkebunan kelapa sawit dengan menghidupkan semangat Nucleus Estate and Smallholders (NES) yang pernah sukses diterapkan pada era 1970–1980-an.
Dalam sambutannya pada SIexpo 2026, ia menyebut model Perkebunan Inti Rakyat (PIR) telah berhasil mengintegrasikan petani sebagai pemangku kepentingan utama dalam pembangunan industri sawit nasional.
Menurutnya, program NES pada masa lalu mampu mengangkat jutaan petani dari kemiskinan sekaligus membangun sentra-sentra ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
“Program Nucleus Estate and Smallholders atau NES benar-benar mengintegrasikan petani sebagai stakeholder utama bagi pembangunan kelapa sawit,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan tersebut perlu didokumentasikan kembali sebagai bahan pembelajaran dalam menata kemitraan sawit masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Pemerintah, lanjutnya, kini tengah melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan dalam ekosistem sawit, mulai dari pembiayaan peremajaan (replanting), jual beli lahan plasma, keterbukaan informasi, hingga perubahan kewajiban regulasi.
“Kita tata bersama supaya ekosistem sawit makin unggul. Kita tidak boleh mengulangi kelemahan masa lalu,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat instrumen yang sudah dimiliki Indonesia, seperti Badan Pengelola Dana Perkebunan, pasar domestik yang kuat, sertifikasi ISPO, serta dukungan lembaga riset seperti PPKS, BRIN, dan perguruan tinggi.
Selain itu, pemerintah mendorong keterhubungan antara sektor hulu dan hilir agar tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Pabrik pengolahan, industri oleokimia, dan produk turunan sawit diharapkan menjadi bagian dari wilayah industri terintegrasi.
Pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME) juga menjadi perhatian untuk dikembangkan menjadi bioenergi dan pupuk organik yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menutup sambutannya, Menteri menegaskan Indonesia tidak cukup hanya menjadi produsen sawit terbesar dunia dari sisi volume, tetapi juga harus unggul dalam kualitas, keberlanjutan, dan nilai tambah.
“Mari kita jadikan industri sawit Indonesia tidak hanya dominan secara volume, tetapi juga terdepan dalam kualitas, keberlanjutan, dan nilai tambah demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan kejayaan ekonomi Indonesia,” tutupnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara SIexpo 2026 dan berharap kolaborasi seluruh pihak dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri sawit berkelanjutan dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....