Rahasia Kelezatan dan Batas Aman Konsumsi Tambusu

  • 27 Apr 2026 09:58 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pencinta kuliner pasti tidak asing dengan tambusu, hidangan berbahan dasar usus sapi yang diisi dengan adonan telur dan bumbu rempah. Keunikan teksturnya yang kenyal di luar namun lembut dan creamy di dalam menjadikannya primadona yang selalu dicari di meja makan.

Mengutip ulasan dari portal informasi publik Indonesia.go.id, hidangan ini merupakan bentuk kreativitas kuliner dalam mengolah jeroan menjadi sajian istimewa yang memiliki nilai rasa tinggi. Proses pembuatan tambusu membutuhkan ketelatenan tinggi agar usus tidak pecah saat dimasak.

Langkah pertama adalah membersihkan usus sapi secara menyeluruh di bawah air mengalir hingga benar-benar higienis dan tidak berbau. Setelah itu, salah satu ujung usus diikat kuat menggunakan tali food-grade atau benang bersih untuk memastikan adonan isian tidak bocor saat proses perebusan dimulai.

Isian tambusu umumnya terdiri dari campuran telur ayam atau telur bebek, santan kental, bawang merah, bawang putih, serta kemiri yang telah dihaluskan. Menurut berbagai catatan kuliner Nusantara, penggunaan telur bebek sering kali lebih disukai karena memberikan tekstur isian yang lebih kokoh dan rasa yang jauh lebih gurih. Adonan ini dimasukkan ke dalam usus menggunakan bantuan corong, lalu diikat kembali sebelum direbus dalam kuah santan berbumbu hingga matang.

Meskipun sangat menggugah selera, konsumsi tambusu perlu diperhatikan karena kandungan kolesterol dan lemak jenuhnya yang cukup tinggi. Berdasarkan pedoman nutrisi dari Kementerian Kesehatan RI, jeroan seperti usus sapi memiliki kadar purin yang signifikan. Jika dikonsumsi tanpa kontrol, hal ini berisiko memicu peningkatan kadar asam urat serta gangguan kolesterol dalam darah bagi individu yang rentan.

Para ahli gizi menyarankan batas aman konsumsi jeroan bagi orang dewasa yang sehat adalah tidak lebih dari 50 hingga 100 gram dalam satu minggu. Bagi Anda yang memiliki riwayat hipertensi atau gangguan jantung, frekuensi konsumsi sebaiknya lebih dibatasi atau dikonsultasikan dengan tenaga medis. Menyeimbangkan porsi tambusu dengan asupan serat dari sayur-sayuran sangat dianjurkan untuk membantu metabolisme tubuh tetap terjaga.

Sebagai salah satu kekayaan kuliner yang legendaris, tambusu tetap bisa dinikmati sebagai sajian yang memanjakan lidah. Kuncinya terletak pada moderasi atau pengendalian diri dalam menyantapnya. Dengan teknik pengolahan yang bersih serta pola konsumsi yang bijak, kita tetap dapat merasakan sensasi gurih tambusu tanpa harus khawatir berlebihan akan dampaknya terhadap kesehatan tubuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....