Bahaya Tersembunyi di Balik Gurihnya Semangkuk Seblak

  • 07 Apr 2026 12:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Seblak telah menjadi fenomena kuliner yang sangat digemari, terutama oleh generasi muda, karena perpaduan rasa pedas dan gurih yang adiktif. Namun, di balik kelezatan kerupuk basah dan aneka isiannya, terdapat kandungan natrium dan karbohidrat olahan yang sangat tinggi. Konsumsi seblak secara berlebihan dan terus-menerus tanpa kontrol dapat memicu berbagai gangguan kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang bagi tubuh manusia.

Kandungan utama dalam bumbu seblak adalah garam dan penyedap rasa yang kaya akan sodium. Menurut penelitian dalam Journal of Health Science (2023), konsumsi natrium yang melampaui batas aman 2.000 mg per hari dapat meningkatkan risiko hipertensi dan beban kerja ginjal secara signifikan. Dalam satu porsi seblak lengkap, kadar natrium seringkali ditemukan hampir mendekati atau bahkan melebihi ambang batas harian yang direkomendasikan tersebut.

Selain risiko hipertensi, tekstur kenyal dari kerupuk dan makaroni merupakan sumber karbohidrat sederhana yang memiliki indeks glikemik tinggi. Karbohidrat jenis ini sangat cepat diserap menjadi gula darah, sehingga memicu lonjakan insulin secara mendadak. Jika pola makan ini dipertahankan, tubuh akan mengalami penurunan sensitivitas insulin yang menjadi cikal bakal terjadinya diabetes melitus tipe 2 dan obesitas pada usia dini.

Sensasi pedas yang menjadi ciri khas seblak juga membawa dampak buruk bagi kesehatan sistem pencernaan jika dikonsumsi berlebihan. Senyawa kapsaisin dari cabai yang terlalu pekat dapat mengiritasi dinding lambung dan menyebabkan peradangan atau gastritis. Bagi penderita lambung sensitif, konsumsi seblak yang terlalu sering akan memperburuk kondisi Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang menimbulkan rasa panas pada dada.

Penting bagi para pecinta kuliner untuk mulai menerapkan batas konsumsi yang bijak demi menjaga keseimbangan nutrisi harian. Para ahli gizi menyarankan agar makanan tinggi natrium seperti seblak tidak dikonsumsi setiap hari, melainkan maksimal satu hingga dua kali dalam sebulan. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi organ tubuh, terutama ginjal, untuk membersihkan residu garam dan zat aditif yang menumpuk.

Sebagai langkah preventif, penyesuaian komposisi isian seblak juga sangat disarankan, seperti memperbanyak sayuran dan protein tanpa lemak. Mengurangi porsi bumbu instan dan menggantinya dengan rempah alami dapat menekan kadar sodium tanpa menghilangkan cita rasa secara drastis. Menjaga pola makan yang moderat adalah kunci utama agar tetap bisa menikmati makanan favorit tanpa mengorbankan kesehatan di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....