Dayok Nabinatur, Simbol Keteraturan dan Berkat
- 15 Feb 2026 19:48 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Dayok Nabinatur, mungkin tidak begitu familiar bagi masyarakt umum. Tapi bagi masyarakat simalungun, hadir bukan sekadar sebagai hidangan ayam biasa, melainkan simbol doa, keteraturan, dan harapan hidup yang tertata.
Disusun menyerupai anatomi ayam yang masih utuh, sajian ini menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat dan momentum sakral masyarakat Simalungun. Menurut laman budaya-indonesia.org, Dayok berarti ayam, sementara “nabinatur” bermakna disusun secara teratur.
Penyusunan ini bukan sembarang tata letak. Setiap bagian ayam, mulai dari kepala, leher, sayap, dada, punggung, paha, kaki, hingga hati dan ampela dipotong mengikuti struktur tubuhnya, lalu ditata rapi di atas pinggan khusus menyerupai bentuk ayam ketika masih hidup. Susunan itu mengandung pesan filosofis: siapa pun yang menerima hidangan ini diharapkan memiliki hidup yang teratur, tertib, dan penuh arah.
Ayam yang digunakan umumnya ayam jantan kampung, khususnya yang berwarna merah dengan jambul yang bagus. Ayam jantan dipilih sebagai simbol kegagahan, semangat, kerja keras, kewibawaan, dan pantang menyerah. Dalam beberapa kesempatan, ayam hutan juga digunakan untuk hasil yang dianggap lebih maksimal.
Secara historis, pada masa Kerajaan Simalungun, hidangan ini disajikan khusus untuk raja. Seiring waktu, Dayok Nabinatur diberikan pula kepada tokoh adat, pemimpin daerah, atau masyarakat yang dihormati. Fungsinya bukan hanya sebagai santapan, tetapi juga sebagai medium penyampaian doa, nasihat, dan rasa syukur.
Di lingkungan keluarga, Dayok Nabinatur kerap disajikan saat anak hendak merantau, memasuki dunia kerja, atau melanjutkan pendidikan. Orang tua menyerahkan hidangan ini sembari menyampaikan petuah: agar hidup di perantauan tetap teratur, santun, tahu etika, serta mampu mencari rezeki dengan cara yang baik. Filosofinya sederhana namun dalam. Sebelum ada alarm, ayam berkokoklah yang membangunkan masyarakat desa untuk memulai hari dan mencari rezeki.
Dalam proses pengolahan, daging ayam dapat dipanggang, digulai, atau dimasak dengan teknik lemang. Untuk versi panggang tradisional, darah ayam yang ditampung saat penyembelihan diolah menggunakan perasan kulit akar atau batang pohon Singkam (Bischofia javanica Blume), lalu dilumurkan ke seluruh potongan ayam.
Hasilnya berwarna merah terang dan dikenal sebagai “Dayok Binatur Hinasumba”. Namun, karena penggunaan darah, sajian ini tidak halal. Untuk menyesuaikan kebutuhan, darah dapat diganti dengan santan kelapa dan serundeng yang juga diberi perasan getah pohon tersebut.
Sentuhan akhir berupa cabe rawit, irisan jahe, bawang merah, serta mahkota bunga kembang sepatu diletakkan di atas susunan ayam. Selain memperindah tampilan, kelopak bunga itu berfungsi menetralkan rasa pedas dari bumbu.
Dayok Nabinatur biasanya hadir dalam acara adat seperti baptisan, angkat sidi, perkawinan, kematian lanjut usia, memasuki rumah baru, wisuda, kenaikan pangkat, hingga syukuran lainnya. Prosesi penyerahannya pun khidmat.
Para peserta duduk bersila, penerima berada di hadapan pemberi, lalu disampaikan doa dan harapan singkat sebelum makan bersama. Daging cincang dan bumbu harus disantap dalam satu suap sebagai simbol kesiapan menerima berkat.
Usai santap bersama, doa kembali dipanjatkan. Makan tidak lagi sekadar mengisi perut, melainkan memperkuat semangat hidup. Tradisi ini telah didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda khas Simalungun, menegaskan bahwa Dayok Nabinatur bukan hanya warisan rasa, tetapi juga warisan nilai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....