Combro Misro Mang Diding Legendaris di Ronggowarsito

  • 28 Jan 2026 12:04 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru : Siapa sangka, di balik hiruk pikuk sore hari di Jalan Ronggowarsito, Pekanbaru, ada satu jajanan sederhana yang sejak 2007 tak pernah kehilangan penggemar. Namanya bersahaja, rasanya luar biasa: Combro Misro Mang Diding.

Begitu jarum jam menunjuk pukul 15.00 WIB, aroma singkong goreng langsung menguar, menggoda siapa saja yang melintas. Belum lama lapak dibuka, antrean sudah mengular. 

Bahkan tak jarang, pembeli harus menelan kecewa bukan karena rasanya tak enak, tapi karena kalah cepat memesan. Di sini, jumlah tangan yang ingin menyantap sering kali lebih banyak daripada combro yang tersedia.

Dengan harga hanya seribu rupiah per buah, Combro Mang Diding seperti menolak tunduk pada inflasi. Murah, merakyat, dan konsisten sejak dulu. Dari luar tampak padat dan garing, namun begitu digigit, isian langsung “meledak” di mulut.

Variannya pun beragam, jauh dari kata membosankan. Mulai dari cokelat, kelapa gula merah, misro, perkedel, hingga rasa pedas, atau manis, semuanya punya penggemar setia masing-masing. 

Lapak ini biasanya tutup pukul 22.00 WIB, tapi jangan terlalu berharap. Kalau adonan habis lebih cepat, Mang Diding dan penerusnya tak ragu menutup lapak lebih awal. Di sini, kehabisan bukan aib, tapi tanda cinta dari para pelanggan.

Kini, tongkat estafet Combro Mang Diding telah dipegang oleh kedua anaknya. Namun satu hal tak berubah: kualitas dan skala produksi yang luar biasa untuk ukuran jajanan kaki lima.

Setiap hari, mereka mengolah tak kurang dari 50 kilogram ubi kayu, dipadukan dengan 10 kilogram kelapa parut, oncom, cabai, bawang, dan aneka bumbu lainnya. Semua dikerjakan dengan resep lama yang dijaga ketat resepnya yang tak sekadar soal rasa, tapi juga soal kesetiaan pada tradisi.

Tak sedikit pelanggan rela menempuh jarak jauh demi sebungkus combro ini. Siska, warga Harapan Raya, mengaku perjuangannya terbayar lunas.

“Cukup effort dari Imam Munandar jauh-jauh ke sini,” ujarnya sambil tersenyum. “Biasanya saya sekali beli ya 50 ribu, kadang-kadang cuma 30 ribu.”

Sementara itu, Hendri, warga Jalan Kembang Sari, punya favorit tersendiri.

“Saya paling suka combro manis. Luarnya padat dan garing, sementara isiannya banyak dan manis, gak lebay,” katanya mantap.

Lebih dari Sekadar Jajanan Combro Misro Mang Diding bukan sekadar gorengan. Ia adalah potongan kecil nostalgia, saksi waktu, dan bukti bahwa rasa jujur tak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat. Di tengah menjamurnya jajanan kekinian, combro ini tetap berdiri dengan caranya sendiri, sederhana, apa adanya, dan selalu dirindukan.

Jika suatu sore Anda melewati Jalan Ronggowarsito dan melihat antrean panjang di pinggir jalan, jangan heran. Bisa jadi, itu bukan sekadar antrean membeli combro, tapi antrean untuk mencicipi kenangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....