Tips Membuat Lepat Labu Kuning Isi Laluo
- 30 Jun 2025 17:15 WIB
- Pekanbaru
KBRN, Pekanbaru: Lepat labu kuning isi laluo merupakan salah satu penganan tradisional yang kaya rasa dan nilai budaya, khas masyarakat Melayu di sebagian wilayah Riau dan Sumatera Barat. Kombinasi antara kelembutan adonan labu kuning dan gurih-manisnya isi laluo (inti kelapa parut dengan gula merah) membuat kudapan ini cocok dinikmati saat santai bersama keluarga atau sebagai sajian dalam acara adat dan keagamaan.
Untuk membuat lepat yang sempurna, pemilihan bahan menjadi langkah awal yang penting. Labu kuning yang digunakan sebaiknya adalah labu jenis kuning tua dengan tekstur padat, bukan berair. Labu ini dikukus terlebih dahulu hingga empuk, lalu dihaluskan. Campuran ini kemudian dicampur dengan tepung beras atau tepung ketan secukupnya, sedikit garam, dan parutan kelapa muda agar adonan terasa lembut dan pulen.
Bagian isiannya, yaitu laluo, menjadi inti kelezatan lepat ini. Laluo dibuat dari kelapa parut kasar yang dicampur dengan gula merah yang telah dicairkan bersama sedikit daun pandan dan sejumput garam. Campuran ini dimasak di atas api kecil hingga air menyusut dan adonan mengering, namun tetap lembut. Aroma khas daun pandan akan memperkaya rasa isian ini.
Disaur dari buku Kue Tradisional Nusantara: Warisan Kuliner Indonesia, setelah adonan labu dan isi laluo siap, ambil selembar daun pisang yang telah dipanaskan sebentar di atas api agar lentur. Olesi dengan sedikit minyak atau parutan kelapa, kemudian letakkan satu sendok makan adonan labu, pipihkan, lalu tambahkan isian laluo di tengah. Tutup dengan sedikit adonan lagi, lalu bungkus membentuk lepat memanjang dan padatkan agar isi tidak bocor saat dikukus.
Proses pengukusan memakan waktu sekitar 25–30 menit dengan api sedang. Lepat yang matang akan mengeluarkan aroma harum khas daun pisang dan tekstur adonan yang kenyal namun lembut. Sajikan dalam keadaan hangat untuk rasa terbaik, atau simpan di suhu ruang dan hangatkan kembali sebelum disajikan.
Lepat labu kuning isi laluo bukan hanya makanan biasa, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner lokal yang diwariskan turun-temurun. Penganan ini sering dijumpai saat bulan puasa, pesta adat, atau sebagai buah tangan dalam acara keluarga. Karena itu, menjaga resep dan teknik pembuatannya merupakan bentuk pelestarian budaya yang sederhana namun bermakna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....