Crab Mentality, saat Sukses Orang Lain Bikin Terusik
- 05 Okt 2026 17:29 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernah melihat seseorang mulai sukses, lalu bukannya ikut senang justru dicari-cari kekurangannya? Atau ketika teman mendapat kesempatan bagus, muncul komentar, “Ah, paling juga karena orang dalam”?
Fenomena semacam ini semakin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam psikologi sosial, perilaku yang berusaha menarik orang lain kembali ketika dianggap mulai “naik” sering dikaitkan dengan istilah crab mentality atau crabs in a barrel syndrome.
Pada kajian American Psychological Association tentang social comparison, penelitian Journal of Applied Psychology Istilah tersebut mengambil perumpamaan dari kepiting dalam wadah. Ketika satu kepiting berusaha keluar, kepiting lain justru menariknya kembali sehingga sulit mencapai tujuan.
Dalam kehidupan sosial, gambaran itu digunakan untuk menjelaskan perilaku ketika seseorang merasa terganggu melihat orang lain berkembang, berhasil atau mendapatkan pengakuan. Alih-alih memberikan dukungan, respons yang muncul justru bisa berupa meremehkan, menyebarkan keraguan, menghambat atau berusaha menjatuhkan.
Fenomena ini tidak selalu muncul secara terang-terangan. Bisa saja terlihat dari candaan yang terus-menerus merendahkan pencapaian seseorang, mengecilkan keberhasilan, menyebarkan komentar negatif, hingga merasa puas ketika orang yang dianggap lebih unggul mengalami kegagalan.
Salah satu hal yang berkaitan dengan fenomena ini adalah kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.
American Psychological Association (APA) menjelaskan, social comparison merupakan proses ketika seseorang mengevaluasi kemampuan atau sikap dirinya dengan membandingkannya dengan orang lain.
Perbandingan itu tidak selalu buruk. Melihat keberhasilan orang lain justru dapat menjadi motivasi untuk berkembang. Namun, ketika keberhasilan orang lain dipandang sebagai ancaman terhadap harga diri atau posisi sosial, respons yang muncul bisa berubah menjadi rasa iri dan perilaku negatif.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology menemukan bahwa dalam lingkungan yang kompetitif, seseorang dapat melakukan tindakan yang merugikan rekan kerja yang dianggap berpotensi menjadi ancaman bagi statusnya di masa depan. Rasa iri dan kekhawatiran kehilangan posisi menjadi salah satu mekanismenya.
Artinya, persoalannya bukan sekadar “tidak suka melihat orang lain sukses”. Ada proses psikologis di baliknya, terutama ketika keberhasilan orang lain membuat seseorang merasa dirinya tertinggal.
Crab mentality juga bisa muncul di berbagai lingkungan. Mulai dari pertemanan, keluarga, komunitas, lingkungan pendidikan hingga media sosial.
Misalnya, ketika seseorang membagikan kabar mendapatkan pekerjaan baru, memenangkan kompetisi atau memulai usaha, respons yang muncul bukan ucapan selamat, tetapi justru mencari kelemahan di balik pencapaiannya.
Di media sosial, situasinya bisa semakin terasa karena keberhasilan seseorang dapat terlihat setiap saat. Foto pencapaian, perjalanan karier, bisnis yang berkembang hingga penghargaan yang diterima dapat menjadi bahan perbandingan.
Namun, penting diingat, tidak setiap rasa iri otomatis berarti seseorang memiliki crab mentality. Rasa iri merupakan emosi manusia yang dapat muncul secara alami. Yang menjadi persoalan adalah ketika emosi tersebut mendorong perilaku untuk merugikan atau menjatuhkan orang lain.
Dalam organisasi atau tempat kerja, penelitian tentang social undermining menunjukkan bahwa perilaku merusak yang dilakukan oleh rekan kerja maupun atasan dapat berkaitan dengan munculnya tekanan psikologis dan rumination, atau kecenderungan terus memikirkan pengalaman negatif.
Sementara dalam kelompok sosial, budaya yang terlalu kompetitif dapat membuat orang merasa harus menyembunyikan keberhasilan agar tidak menjadi sasaran komentar negatif.
Pada akhirnya, bukan hanya individu yang dirugikan. Hubungan antarmanusia juga bisa ikut rusak karena rasa percaya berkurang dan orang menjadi enggan saling mendukung.
Menghadapi crab mentality tidak harus selalu dengan membalas perilaku negatif,berikut cara menghadapinya:
Langkah pertama adalah mengenali bahwa keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri sendiri. Setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan dan ukuran keberhasilan yang berbeda.
Jika menerima komentar yang meremehkan, seseorang juga tidak harus selalu membuktikan dirinya kepada semua orang. Fokus pada proses, menjaga batasan dan memilih lingkungan yang suportif bisa menjadi langkah yang lebih sehat.
Sebaliknya, bagi orang yang menyadari dirinya mulai merasa tidak nyaman melihat keberhasilan orang lain, perasaan tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi.
Alih-alih bertanya, “Mengapa dia bisa, sementara saya tidak?”, pertanyaan yang lebih produktif adalah, “Apa yang bisa saya pelajari dari keberhasilannya?”
Sebab, keberhasilan orang lain sebenarnya tidak harus menjadi ancaman. Bisa saja justru menjadi cermin, inspirasi dan pengingat bahwa kesempatan untuk berkembang selalu terbuka.
Pada akhirnya, keluar dari crab mentality bukan berarti berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Yang lebih penting adalah mengubah cara membandingkan diri dari keinginan menjatuhkan menjadi dorongan untuk bertumbuh.
Jangan sampai ketika melihat orang lain berhasil, yang sibuk dilakukan justru menariknya kembali ke bawah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....