Cara Mengatasi Picky Eater tanpa Paksaan
- 18 Jul 2026 20:31 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Menghadapi anak yang tergolong pemilih makanan (picky eater) sering kali memicu stres bagi orang tua di meja makan. Langkah instan seperti membujuk dengan gawai atau bahkan memaksa anak menghabiskan makanan kerap menjadi jalan pintas.
Padahal, metode paksaan justru berisiko menimbulkan trauma jangka panjang dan merusak hubungan emosional anak dengan makanan sehat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya menerapkan aturan makan (feeding rules) yang konsisten sebagai langkah awal.
| Baca juga: Gangguan Kulit pada Gen Z |
Orang tua disarankan membuat jadwal makan besar dan camilan yang teratur setiap harinya, serta membatasi durasi makan maksimal 30 menit. Selain itu, pastikan suasana makan menyenangkan tanpa ada paksaan, intimidasi, maupun distraksi dari televisi atau gawai yang dapat membuyarkan fokus anak terhadap makanannya.
Langkah berikutnya adalah melibatkan anak dalam proses persiapan makanan, mulai dari belanja bahan di pasar hingga menyiapkannya di dapur. Rujukan ilmiah dari studi National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak-anak yang dilibatkan dalam aktivitas memasak menunjukkan antusiasme yang jauh lebih tinggi untuk mencicipi makanan baru. Keterlibatan ini menumbuhkan rasa kepemilikan dan rasa ingin tahu anak terhadap menu yang mereka buat sendiri.
Selanjutnya, teknik menyajikan makanan dengan porsi kecil namun bervariasi terbukti efektif mengurangi tekanan psikologis pada anak. Mengutip rekomendasi dari American Academy of Pediatrics (AAP), orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan porsi besar yang membuat anak merasa terbebani. Sajikan makanan dalam potongan-potongan kecil yang menarik, dan gabungkan makanan baru yang belum mereka sukai di samping makanan yang sudah menjadi favorit mereka.
Kunci kelima dan keenam terletak pada konsistensi pengenalan menu baru serta kreativitas dalam memodifikasi tekstur atau bentuk makanan. Jurnal internasional Progress in Nutrition mengungkapkan bahwa sebuah makanan baru terkadang perlu diperkenalkan dan ditawarkan sebanyak 10 hingga 15 kali secara sabar sebelum lidah anak benar-benar bisa menerimanya. Jangan mudah menyerah pada penolakan pertama, dan cobalah mengubah metode memasak, misalnya sayuran yang tadinya direbus, diolah menjadi bakso atau dicampur ke dalam dadar telur.
Dua langkah pamungkas yang tidak kalah krusial adalah menjadi teladan yang baik serta menghindari pemberian hadiah (reward) berupa makanan tidak sehat. Anak adalah peniru ulung; mereka tidak akan mau makan sayur jika melihat orang tuanya hanya mengonsumsi makanan siap saji. AAP juga mengingatkan agar orang tua tidak menjanjikan es krim atau permen sebagai "hadiah" jika anak menghabiskan sayurnya, karena hal ini justru memperkuat stigma bahwa sayur adalah makanan yang tidak enak.
Mengatasi picky eater memang membutuhkan kesabaran ekstra dan pendekatan yang berpusat pada kenyamanan anak. Dengan menerapkan delapan langkah berbasis ilmiah ini secara konsisten, orang tua tidak hanya memberikan nutrisi optimal bagi tumbuh kembang anak, tetapi juga sedang membentuk kebiasaan makan sehat yang akan melekat hingga mereka dewasa nanti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....