Penyebab Anak Epilepsi Bisa Sensitif terhadap Cahaya
- 20 Mei 2026 15:03 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tidak semua anak dengan epilepsi memiliki pemicu kejang yang sama. Ada yang kejang karena kurang tidur, stres, atau demam tinggi.
Namun pada beberapa kasus, cahaya berkedip juga bisa menjadi pemicu munculnya kejang. Kondisi ini sering membuat orang tua khawatir, apalagi di zaman sekarang anak sangat dekat dengan gadget, televisi, dan permainan digital.
Sensitif terhadap cahaya pada penderita epilepsi dikenal dengan istilah fotosensitif epilepsi. Kondisi ini terjadi ketika otak bereaksi berlebihan terhadap cahaya tertentu, terutama cahaya yang berkedip cepat atau pola visual yang terlalu terang. Reaksi tersebut dapat memicu aktivitas listrik abnormal di otak yang akhirnya menyebabkan kejang.
Menurut Epilepsy Foundation, cahaya berkedip dengan frekuensi tertentu dapat memicu kejang pada sebagian penderita epilepsi fotosensitif. Meski begitu, tidak semua anak epilepsi memiliki sensitivitas terhadap cahaya. Hanya sebagian kecil penderita yang mengalami kondisi ini.
Pemicu yang paling sering adalah lampu berkedip cepat, seperti lampu disco, efek cahaya di konser, atau tampilan video tertentu. Selain itu, layar gadget dan televisi juga bisa menjadi pemicu jika digunakan terlalu lama atau dalam kondisi ruangan gelap. Permainan video dengan efek visual cepat juga sering dikaitkan dengan risiko munculnya kejang pada anak yang sensitif terhadap cahaya.
Gejala yang muncul tidak selalu berupa kejang besar. Pada beberapa anak, tanda awal bisa berupa mata berkedip terus, pandangan kosong sesaat, pusing, atau tubuh tiba-tiba terasa lemas. Karena gejalanya kadang terlihat ringan, orang tua sering tidak menyadari bahwa cahaya menjadi salah satu pemicunya.
Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah anak memiliki epilepsi fotosensitif. Salah satu pemeriksaan yang umum dilakukan adalah EEG atau electroencephalogram. Dalam pemeriksaan ini, pasien dapat diberikan rangsangan cahaya berkedip untuk melihat respons aktivitas listrik di otak.
Meski terdengar menakutkan, kondisi ini tetap bisa dikendalikan dengan penanganan yang tepat. Anak tidak harus sepenuhnya dijauhkan dari gadget atau televisi, tetapi penggunaannya perlu dibatasi dan diawasi. Mengurangi paparan cahaya terlalu terang serta menghindari layar berkedip dalam waktu lama dapat membantu menurunkan risiko kejang.
Orang tua juga disarankan memastikan anak cukup tidur dan tidak kelelahan. Kurang tidur dapat membuat otak lebih sensitif terhadap pemicu kejang, termasuk cahaya. Selain itu, penggunaan kacamata khusus pada beberapa kasus juga bisa membantu mengurangi sensitivitas terhadap cahaya tertentu.
Pada akhirnya, memahami pemicu kejang pada anak epilepsi adalah langkah penting agar kondisi anak lebih terkontrol. Sensitif terhadap cahaya memang nyata terjadi pada sebagian penderita epilepsi, tetapi bukan berarti anak tidak bisa menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan pengawasan dan penanganan yang tepat, risiko kejang tetap dapat diminimalkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....