Malam Renungan AIDS Nusantara, Menyalakan Harapan Ditengah Perjuangan HIV-AIDS

  • 07 Mei 2026 20:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tidak semua perjuangan melawan HIV-AIDS dilakukan dengan suara lantang dan panggung besar. Ada juga perjuangan yang hadir dalam suasana hening, penuh doa, dan cahaya lilin. Itulah makna dari Malam Renungan AIDS Nusantara atau MRAN yang setiap tahunnya diperingati tiap tanggal 15 Mei.

Malam Renungan AIDS Nusantara, yang secara internasional dikenal sebagai Candlelight Memorial, menjadi momen penting untuk mengenang orang-orang yang telah meninggal dunia karena AIDS sekaligus memberikan dukungan kepada Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang masih terus berjuang menjalani hidup.

Meski tidak sepopuler Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember, MRAN memiliki makna mendalam karena lahir dari gerakan masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya kepedulian, empati, dan dukungan kemanusiaan bagi para penyintas HIV-AIDS.

Dikutip dari International AIDS Candlelight Memorial, World Health Organization (WHO, sejarah mencatat, kegiatan Candlelight Memorial pertama kali dilakukan di San Francisco pada tahun 1983. Dari sebuah aksi sederhana mengenang korban AIDS, gerakan ini kemudian berkembang menjadi peringatan internasional yang dilakukan serentak di berbagai negara di dunia.

Di Indonesia sendiri, MRAN mulai berlangsung sejak tahun 1991 dan semakin meluas sejak 1996. Hingga kini, kegiatan tersebut masih rutin digelar oleh komunitas, lembaga kesehatan, aktivis HIV-AIDS, hingga organisasi masyarakat di berbagai daerah.

Biasanya, MRAN ditandai dengan prosesi menyalakan lilin. Cahaya lilin yang sederhana menjadi simbol harapan dan pengingat bahwa perjuangan melawan HIV-AIDS belum selesai. Di balik nyala kecil itu, tersimpan doa, kenangan, dan semangat untuk terus mendukung mereka yang hidup dengan HIV-AIDS tanpa stigma dan diskriminasi.

MRAN juga menjadi pengingat bahwa ODHA bukan orang yang harus dijauhi. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang membutuhkan dukungan emosional, akses kesehatan yang layak, dan kesempatan untuk tetap hidup produktif. Sayangnya, hingga kini masih banyak stigma negatif yang membuat sebagian ODHA merasa dikucilkan.

Melalui peringatan ini, masyarakat diajak lebih memahami bahwa HIV dapat dicegah, ditangani, dan dikendalikan dengan pengobatan yang tepat. Edukasi tentang HIV-AIDS juga penting agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang keliru.

Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Malam Renungan AIDS Nusantara adalah ajakan untuk peduli. Peduli terhadap sesama, peduli terhadap kesehatan, dan peduli untuk menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi bagi siapa pun tanpa memandang status kesehatannya.

Karena di balik cahaya lilin yang redup, ada harapan besar agar tidak ada lagi rasa takut, diskriminasi, dan kehilangan akibat HIV-AIDS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....