Andropause pada Pria yang Sering Terabaikan

  • 30 Apr 2026 11:35 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Fenomena penurunan hormon pada pria yang kerap disebut sebagai “menopause pria” atau andropause mulai mendapat perhatian di dunia medis. Berbeda dengan menopause pada wanita yang terjadi secara jelas, andropause berlangsung lebih perlahan dan sering kali tidak disadari.

Andropause merujuk pada penurunan kadar hormon testosteron pada pria seiring bertambahnya usia. Kondisi ini umumnya mulai terjadi setelah usia 40 tahun dan dapat memengaruhi kualitas hidup jika tidak ditangani dengan baik.

Gejala yang perlu diwaspadai diantaranya , terjadi beberapa tanda andropause sering kali dianggap sebagai bagian dari proses penuaan biasa. Padahal, kondisi ini memiliki gejala khas, antara lain:

- Penurunan gairah seksual

- Mudah lelah dan kurang energi

- Gangguan tidur

- Perubahan suasana hati, seperti mudah marah atau depresi

- Penurunan massa otot dan peningkatan lemak tubuh

Menurut World Health Organization (WHO), perubahan hormon pada pria memang terjadi secara alami, namun dampaknya bisa berbeda-beda tergantung kondisi kesehatan dan gaya hidup masing-masing individu.

Penurunan testosteron merupakan penyebab utama andropause , Penelitian dari Mayo Clinic menyebutkan bahwa kadar testosteron pria dapat menurun sekitar 1% setiap tahun setelah usia 30–40 tahun. Selain faktor usia, beberapa hal yang dapat mempercepat kondisi ini antara lain:

- Pola makan tidak sehat

- Kurang aktivitas fisik

- Stres berkepanjangan

- Penyakit kronis seperti diabetes dan obesitas

Dampak Terhadap Kesehatan Andropause tidak hanya berdampak pada kehidupan seksual, tetapi juga kesehatan secara keseluruhan. Pria dengan kadar testosteron rendah berisiko mengalami:

- Osteoporosis (penurunan kepadatan tulang)

- Gangguan metabolisme

- Penurunan fungsi kognitif

Cara Mengatasi Andropause

Meski tidak dapat dicegah sepenuhnya, andropause bisa dikelola dengan gaya hidup sehat. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:

- Rutin berolahraga

- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang

- Mengelola stres dengan baik

- Istirahat cukup

Dalam beberapa kasus, terapi penggantian hormon testosteron dapat menjadi pilihan, namun harus dilakukan di bawah pengawasan dokter. Kurangnya pemahaman membuat banyak pria mengabaikan gejala andropause. Padahal, deteksi dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan pria, termasuk melakukan pemeriksaan rutin terutama setelah memasuki usia 40 tahun.


google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....