Memahami Sindrom Tourette

  • 22 Apr 2026 11:48 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Penyanyi ternama dunia, Billie Eilish tentu tidak asing lagi ditelinga kita. Billie Eilish didiagnosis menderita Sindrom Tourette sejak berumur 11 tahun. Jadi, apa itu Sindrom Tourette? Apa gejala dan penyebabnya?

Sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang muncul pada masa kanak-kanak. Sesuai Alodokter, sindrom ini merupakan kondisi kronis yang biasanya muncul antara usia 2 hingga 15 tahun, dengan rata-rata kemunculan pada usia sekitar 6 tahun, dan cenderung lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Ditandai dengan gejala “tic” yaitu gerakan atau suara vokal yang berulang, cepat, dan terjadi tanpa disadari dan sulit dikendalikan. Gangguan ini sering kali disalahpahami oleh masyarakat umum sebagai kondisi yang hanya berkaitan dengan ucapan kasar atau makian (koprolalia), padahal secara medis, koprolalia hanya dialami oleh sebagian kecil penderita.

Penyebab pasti Sindrom Tourette masih terus diteliti, namun para ahli meyakini adanya gangguan pada sirkuit otak yang menghubungkan ganglia basalis, lobus frontal, dan korteks serebral. Berdasarkan literatur dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), gangguan ini melibatkan ketidakseimbangan zat kimia otak atau neurotransmiter, terutama dopamin dan serotonin, yang berperan dalam mengendalikan gerakan tubuh dan emosi.

Ketika sinyal-sinyal ini tidak berjalan dengan semestinya, otak mengirimkan perintah gerakan atau suara yang tidak dapat dikendalikan oleh penderitanya. Selain itu, Alodokter juga menjelaskan kelainan genetik dan faktor selama kehamilan dan persalinan, seperti stres dalam masa kehamilan, proses persalinan yang berlangsung lama, atau bayi lahir dengan berat badan rendah juga bisa menjadi penyebabnya.

Gejala tic dalam Sindrom Tourette terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu tic motorik dan tic vokal. Tic motorik bisa berupa simple motor tix seperti kedipan mata yang berulang, mengangkat bahu, mengangguk, menggerakkan mulut hingga complex motor tix seperti menyentuh benda, meniru gerak tertentu, melompat atau memutar tubuh.

Sementara itu, tic vokal juga mencangkup simple vocal tix seperti batuk, berdehem, serta mengeluarkan suara hewan dan untuk complex vocal tix mencakup mengulang perkataan sendiri (palilalia), mengulang ucapan orang lain (echophenomena), serta mengucapkan kata-kata kasar dan vulgar (koprolalia). Menurut klasifikasi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), seseorang didiagnosis menderita Sindrom Tourette jika mereka memiliki setidaknya dua tic motorik dan satu tic vokal yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun.

Sindrom Tourette dengan gejala ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Meskipun hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan Sindrom Tourette secara total, banyak penderita yang mengalami perbaikan gejala seiring bertambahnya usia, terutama setelah melewati masa remaja.

Penanganan baru diberikan jika keluhan yang muncul tergolong parah, mengganggu aktivitas, atau membahayakan penderita maupun orang di sekitarnya. Pengobatan biasanya melibatkan terapi perilaku, seperti Comprehensive Behavioral Intervention for Tics (CBIT), penggunaan obat-obatan, atau Deep brain stimulation (DBS) untuk merangsang otak dengan aliran listrik.

Penting untuk dipahami bahwa penderita Sindrom Tourette sering kali memiliki kondisi penyerta (komorbiditas) yang memerlukan perhatian medis tambahan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Neurology menunjukkan bahwa sebagian besar individu dengan ST juga mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), atau gangguan kecemasan.

Oleh karena itu, penanganan Sindrom Tourette tidak hanya berfokus pada pengurangan tic, tetapi juga pada pengelolaan kondisi psikologis pendukung agar penderita dapat berfungsi secara optimal dalam kehidupan sosial dan akademik mereka.

Dukungan lingkungan dan edukasi masyarakat juga menjadi kunci utama bagi para penderita ST untuk dapat hidup dengan percaya diri tanpa stigmatisasi yang merugikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....