Mahasiswa dan Pengabdian: Literasi Kemanusiaan dari Aceh Tamiang
- 27 Feb 2026 14:57 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Dalam konteks literasi, mencatat dan membagikan pengalaman kemanusiaan memiliki arti penting. Itulah yang dilakukan dalam obrolan ROTASI bertema “Suara dari Tanah Luka”, yang mengangkat pengalaman langsung relawan mahasiswa di Aceh Tamiang.
Obrolan ROTASI Pro 2 Pekanbaru bersama Muhammad Wahyudi, Ketua Umum KAMMI KOMJI USR dan Hilman Dwi Harahap, Koordinator KOMJI Peduli Aceh Tamiang pada Rabu, 18 Februari 2026.
Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga membaca realitas. Mahasiswa yang turun langsung ke lokasi bencana melihat fakta yang berbeda dari narasi media sosial. Bantuan memang ada, tetapi belum menyentuh semua kebutuhan mendasar. Masyarakat tidak hanya memerlukan sembako, tetapi juga solusi keberlanjutan hidup: pekerjaan, alat usaha, dan kepastian tempat tinggal.
Pengalaman di lapangan memperlihatkan bahwa peran mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada aksi simbolik. Tridharma Perguruan Tinggi menegaskan pentingnya pengabdian kepada masyarakat. Turun langsung, berdialog, dan merasakan kondisi warga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang sesungguhnya.
Salah satu pelajaran paling kuat adalah bagaimana masyarakat yang kehilangan rumah masih mampu tersenyum. Keteguhan itu justru menjadi refleksi bagi mahasiswa untuk terus bergerak. Pengabdian bukan sekadar agenda organisasi, melainkan panggilan moral.
Melalui literasi, kisah Aceh Tamiang tidak berhenti di lokasi bencana. Ia menjadi suara yang disebarluaskan, menjadi pengingat bahwa pemulihan belum tuntas. Dengan mencatat dan membagikan pengalaman ini, mahasiswa berperan sebagai penyambung suara masyarakat kepada publik dan pengambil kebijakan.
“Suara dari Tanah Luka” bukan hanya judul, tetapi representasi dari harapan yang masih menunggu untuk diwujudkan. Selama suara itu terus disuarakan, harapan untuk pulih sepenuhnya tetap hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....