Suara dari Tanah Luka: ketika Mahasiswa Menyapa Harapan di Aceh Tamiang
- 27 Feb 2026 14:53 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Bencana yang melanda Aceh Tamiang menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh. Dua bulan pasca bencana, kondisi di sejumlah desa masih memprihatinkan. Rumah-rumah rata dengan tanah, warga tinggal di tenda darurat, dan kebutuhan dasar belum sepenuhnya terpenuhi.
Dari situlah tema “Suara dari Tanah Luka” lahir—sebuah catatan perjalanan kemanusiaan yang dibagikan dalam obrolan ROTASI Pro 2 Pekanbaru bersama Muhammad Wahyudi, Ketua Umum KAMMI KOMJI USR dan Hilman Dwi Harahap, Koordinator KOMJI Peduli Aceh Tamiang pada Rabu, 18 Februari 2026.
Perjalanan relawan mahasiswa dari Komisariat Raja Ali Haji UIN Suska Riau menuju Aceh Tamiang bukan sekadar membawa bantuan. Mereka datang membawa empati dan ingin menyaksikan langsung kondisi masyarakat. Selama sepekan, mereka berada di lokasi terdampak, salah satunya di Desa Lubuk Sidup.
Pemandangan yang mereka temui begitu menyayat hati, rumah-rumah hilang, hanya tersisa puing dan pintu yang berdiri sendiri. Warga bertahan di tenda sempit. Namun yang paling membekas bukan hanya kerusakan fisik, melainkan kalimat seorang ibu yang mengatakan, “Kami sudah capek bersedih.” Kalimat itu menggambarkan betapa panjang dan beratnya perjuangan mereka.
Relawan berhasil menggalang dana sekitar 40 juta rupiah secara mandiri. Bantuan berupa pakaian layak pakai, kebutuhan pokok, dan perlengkapan lainnya disalurkan langsung. Namun di lapangan, mereka menyadari kebutuhan masyarakat jauh lebih besar. Warga membutuhkan air bersih, peralatan memasak, perlengkapan mencuci, bahkan buku untuk anak-anak.
Bagi para mahasiswa ini, perjalanan tersebut bukan sekadar misi bantuan, melainkan pengingat tentang makna pengabdian. Mereka merasa belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Bahkan dalam momen penyerahan bantuan, rasa haru tak terbendung karena menyadari masih banyak yang belum bisa diberikan.
“Suara dari Tanah Luka” menjadi ajakan agar masyarakat dan mahasiswa tidak berhenti pada formalitas penggalangan dana semata. Aceh Tamiang belum pulih sepenuhnya. Suara mereka perlu terus disampaikan agar janji-janji pemulihan benar-benar terealisasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....