Puasa Intermiten, Apakah Aman bagi Siklus Menstruasi
- 25 Feb 2026 19:38 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Intermittent fasting atau IF semakin populer sebagai metode pengaturan pola makan untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki kesehatan metabolik. Pola makan ini mengatur waktu makan dan puasa dalam periode tertentu, seperti metode 16:8 atau 5:2.
Namun, di balik manfaat yang banyak dibicarakan, muncul pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Hal ini terutama berkaitan dengan keseimbangan hormon dan keteraturan siklus menstruasi.
Sebuah studi tinjauan sistematis berjudul The Analysis Study: Effect of Intermittent Fasting on Female Reproductive Hormones and Menstrual Cycle mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian ini dilakukan oleh Tuswandi Ahmad Waly dan Bayu Setyo Nugroho dari Waled Regional General Hospital. Kajian ini menyoroti bagaimana IF memengaruhi hormon reproduksi perempuan serta siklus menstruasi. Fokus penelitian tidak hanya pada manfaat, tetapi juga potensi risiko yang mungkin muncul.
| Baca juga: Puasa saat Hamil, Boleh atau Tidak |
Hasil kajian menunjukkan IF memiliki dampak yang kompleks terhadap hormon reproduksi perempuan. Di satu sisi, IF dilaporkan membantu penurunan berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menurunkan peradangan.
Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat memperbaiki gangguan hormon pada perempuan dengan masalah metabolik, seperti resistensi insulin. Dengan demikian, pada kelompok tertentu, IF justru berpotensi memberikan manfaat terhadap kesehatan reproduksi.
Namun demikian, studi ini juga menyoroti adanya potensi risiko. Pembatasan asupan energi dalam jangka panjang dapat memengaruhi ritme sirkadian hormon, termasuk estrogen dan progesteron.
Ketidakseimbangan hormon tersebut berpotensi menyebabkan perubahan pada siklus menstruasi, seperti keterlambatan haid, siklus tidak teratur, hingga gangguan ovulasi. Efek ini lebih mungkin terjadi pada perempuan dengan defisit kalori ekstrem atau berat badan yang sudah rendah.
Peneliti menekankan bahwa respons tubuh terhadap IF sangat bergantung pada kondisi individu. Faktor seperti status gizi, keseimbangan hormon, tingkat stres, serta intensitas aktivitas fisik turut memengaruhi hasilnya, artinya, tidak semua perempuan akan mengalami dampak yang sama saat menjalani pola makan ini. Pendekatan yang bersifat individual menjadi kunci dalam menerapkan IF secara aman.
Selain itu, penelitian ini juga mencatat bahwa bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas. Jumlah studi yang secara khusus meneliti efek IF terhadap hormon reproduksi perempuan relatif sedikit. Variasi desain penelitian serta perbedaan karakteristik responden membuat hasilnya belum sepenuhnya dapat digeneralisasi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan metodologi yang lebih kuat dan jumlah sampel yang lebih besar.
IF menawarkan potensi manfaat sekaligus risiko bagi kesehatan reproduksi perempuan. Pola makan ini dapat membantu perbaikan metabolik, tetapi juga berisiko mengganggu keseimbangan hormon bila tidak dilakukan dengan tepat.
Perempuan yang ingin menjalani IF disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna menyesuaikan pola makan dengan kondisi tubuhnya. Dengan pendekatan yang tepat, manfaat IF dapat dioptimalkan tanpa mengabaikan kesehatan hormonal dan siklus menstruasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....