Filosofi Kuliner Imlek: Simbolisme Doa dalam Hidangan
- 11 Feb 2026 15:52 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tradisi masyarakat Tionghoa, kuliner tidak sekadar berfungsi sebagai pemuas rasa, melainkan medium komunikasi simbolik yang sarat makna.
Peneliti antropologi budaya dari Universitas Indonesia, Dr. LG. Saraswati Putri, menyebutkan bahwa sajian Imlek adalah bentuk "doa yang divisualisasikan". Makanan yang disajikan di meja altar maupun ruang tamu memiliki fungsi sosial dan spiritual untuk menghubungkan manusia dengan leluhur, dewa, serta sesama anggota keluarga.
Pemilihan jenis kue sangat dipengaruhi oleh prinsip homofoni (kesamaan bunyi kata) dan simbolisme bentuk yang dipercaya membawa energi positif (chi) untuk tahun yang baru.
Kue Keranjang atau Nian Gao adalah primadona yang paling banyak diulas dalam literatur sejarah kuliner Tiongkok. Menurut catatan pakar Sinologi, Prof. Leo Suryadinata, secara etimologis kata "Nian" berarti tahun dan "Gao" berarti kue, yang juga terdengar seperti kata "tinggi".
Para ahli mencatat memakan kue ini adalah simbolisasi harapan Nian Nian Gao Sheng, yang bermakna "peningkatan rezeki dan taraf hidup dari tahun ke tahun". Selain itu, teksturnya yang lengket merepresentasikan filosofi persaudaraan yang erat, selaras dengan studi kebudayaan yang menekankan pentingnya kohesi sosial dalam keluarga Tionghoa.
Selanjutnya, Kue Lapis Legit mencerminkan akulturasi budaya yang unik antara tradisi Tionghoa dan teknik pembuatan kue Belanda (Spekkoek). Budayawan kuliner, Bondan Winarno, dalam berbagai ulasannya menyebut bahwa di Indonesia, kue ini telah diadopsi sebagai simbol kemakmuran yang berlapis-lapis.
Penelitian mengenai kuliner Peranakan menunjukkan bahwa proses pembuatannya yang rumit mengajarkan nilai kesabaran. Jumlah lapisan yang banyak diasosiasikan dengan rezeki yang terus menumpuk tanpa putus, menjadikannya hantaran yang sangat bergengsi dalam strata sosial masyarakat.
Simbolisme visual yang kuat juga ditemukan pada Kue Mangkok (Fa Gao) dan Kue Ku (Ang Ku Kueh). Dalam kajian semiotika budaya yang sering dibahas oleh para peneliti kebudayaan Asia, Kue Mangkok yang mekar sempurna dimaknai sebagai Fa atau "mekar/berkembang", menyimbolkan kebangkitan ekonomi.
Sementara itu, Kue Ku yang berbentuk menyerupai tempurung kura-kura adalah manifestasi doa panjang umur. Hal ini sejalan dengan mitologi Tiongkok yang menempatkan kura-kura sebagai salah satu dari empat hewan suci pembawa keberuntungan.
Tidak ketinggalan, kehadiran Manisan Segi Delapan atau Tray of Togetherness menegaskan pentingnya numerologi. Berdasarkan data dari National Library Board (NLB) mengenai tradisi Tionghoa, angka 8 (Ba) dipilih karena bunyi yang mirip dengan kata "makmur" (Fa).
Para peneliti budaya mencatat bahwa setiap isian di dalamnya memiliki arti spesifik; misalnya biji teratai untuk kesuburan dan kelengkeng untuk ikatan keluarga. Wadah ini bukan sekadar camilan, melainkan representasi dari alam semesta yang memberikan kelimpahan bagi manusia.
Secara keseluruhan, ragam kue Imlek adalah artefak budaya yang melestarikan nilai-nilai luhur. Sejalan dengan teori sosiologi keluarga dari tokoh seperti Talcott Parsons tentang pemeliharaan pola (pattern maintenance), momen berbagi kue ini memperbarui ikatan sosial dan menegaskan kembali harapan kolektif. Melalui konsumsi simbol-simbol ini, masyarakat melakukan ritual penguatan identitas untuk menyongsong masa depan yang lebih sejahtera, harmonis, dan penuh berkah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....