Perbedaan Positif Thinking dan Toxic Positivity: Pentingnya Validasi Emosi

  • 08 Jan 2025 06:07 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru: Masih banyak orang yang bingung membedakan antara positive thinking dan toxic positivity. Dalam obrolan Spada Pro 2 Pekanbaru, Dina Haya Sufya, seorang dosen sekaligus praktisi, kedua konsep ini memiliki perbedaan yang sangat tipis namun krusial.

"Toxic positivity adalah penekanan emosi negatif yang dialihkan ke positif tanpa memvalidasi emosi tersebut," jelas Dina, Selasa (7/1/25)

Ia mencontohkan, saat seseorang merasa sedih atau kecewa, seringkali emosi itu ditekan dengan ungkapan seperti, "Oh enggak, kamu pasti bisa," tanpa mengakui perasaan sebenarnya.

Padahal, menurutnya, validasi emosi seperti mengatakan, "It's okay kamu sedih, gak papa kalau kamu ingin menangis," sangat penting untuk kesehatan mental.

Sebaliknya, positive thinking adalah berpikiran baik tanpa menekan emosi negatif. Emosi seperti sedih atau kecewa perlu diakui terlebih dahulu sebelum diarahkan ke hal-hal yang membangun.

"Setelah emosi divalidasi, barulah kita mencoba memperbaiki perasaan tersebut dengan kegiatan positif seperti mengikuti aktivitas yang membangun," tambahnya.

Dina juga menjelaskan dampak buruk dari toxic positivity. Jika emosi negatif terus-menerus ditekan tanpa validasi, hal ini dapat menyebabkan efek katarsis seperti emosi yang tidak jelas, gemetar berlebihan, atau munculnya gejala psikis lain seperti sigma frag.

"Emosi yang tidak diluapkan dengan sehat bisa menjadi beban bagi pikiran," ungkapnya.

Oleh karena itu, Dina menekankan pentingnya memahami perbedaan antara kedua konsep ini. Dengan cara tersebut, kita dapat menjaga keseimbangan emosional dan tetap berpikir positif tanpa mengorbankan kesehatan mental kita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....