Mitos atau Fakta, Toilet Jongkok Lebih Sehat untuk BAB?
- 07 Okt 2026 12:18 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Toilet jongkok sering dianggap lebih “alami” untuk buang air besar (BAB) dibandingkan toilet duduk. Bahkan, ada anggapan posisi jongkok bisa membuat BAB lebih lancar, mengurangi mengejan, hingga mencegah sembelit.
Lantas, benarkah toilet jongkok memang lebih sehat? Jawabannya, ada dasar ilmiah, tetapi tidak berarti toilet duduk lebih buruk untuk semua orang. Sejumlah penelitian menunjukkan posisi tubuh saat BAB dapat memengaruhi sudut antara rektum dan anus.
Studi yang dipublikasikan di Journal of Physiological Anthropology menemukan, posisi jongkok membuat sudut anorektal menjadi lebih terbuka dibandingkan posisi duduk biasa. Kondisi ini secara teori dapat membuat saluran pembuangan lebih lurus sehingga feses lebih mudah keluar. Artinya, posisi jongkok memang memiliki keuntungan dari sisi mekanisme tubuh.
Saat seseorang duduk tegak di toilet, otot puborektalis yang berada di sekitar rektum masih mempertahankan sudut tertentu. Ketika posisi tubuh dibuat lebih menyerupai jongkok, sudut tersebut menjadi lebih terbuka. Kondisi ini dapat membantu proses pengeluaran feses tanpa harus memberikan tekanan terlalu besar.
Penelitian lain yang membandingkan posisi duduk dan jongkok pada orang sehat menemukan bahwa posisi jongkok berkaitan dengan waktu BAB yang lebih singkat dan usaha mengejan yang lebih rendah. Inilah yang kemudian membuat toilet jongkok sering dianggap lebih baik untuk BAB. Namun, bukan berarti setiap orang yang menggunakan toilet duduk akan mengalami masalah pencernaan.
Tinjauan ilmiah yang diterbitkan BMC Public Health pada 2025 menganalisis 42 penelitian mengenai posisi toilet jongkok dan duduk. Hasilnya menunjukkan posisi jongkok berpotensi membantu pengosongan usus dan mengurangi tekanan saat BAB, tetapi bukti yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa toilet jongkok selalu lebih sehat bagi semua orang. Ada kelompok yang justru lebih aman menggunakan toilet duduk.
Misalnya, orang lanjut usia, seseorang dengan gangguan keseimbangan, masalah lutut, pinggul, atau keterbatasan gerak. Pada kelompok tersebut, posisi jongkok dapat memberikan beban tambahan pada sendi dan meningkatkan risiko kehilangan keseimbangan. Karena itu, aspek kesehatan tidak hanya ditentukan oleh jenis toilet, tetapi juga kondisi tubuh penggunanya.
Bagi pengguna toilet duduk yang ingin mendapatkan posisi BAB yang lebih mendekati jongkok, salah satu cara yang umum disarankan adalah menggunakan pijakan kaki kecil.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) juga menyebutkan bahwa meletakkan kaki di atas footstool dapat membantu membuat posisi lebih nyaman saat BAB.
Posisi tubuh bisa dibuat dengan lutut sedikit lebih tinggi dari pinggul dan badan agak condong ke depan. Cara ini membantu mendekatkan posisi duduk pada postur jongkok tanpa harus benar-benar berjongkok di atas toilet duduk.
Meski begitu, penelitian terbaru juga menunjukkan hasil yang belum seragam. Sebuah uji acak pada pasien sembelit menemukan penggunaan pijakan kaki memang mengubah posisi tubuh, tetapi tidak menunjukkan perbaikan signifikan pada waktu pengeluaran dalam simulasi BAB. Jadi, pijakan kaki bukan solusi ajaib untuk semua masalah sembelit.
Daripada hanya fokus memilih toilet jongkok atau duduk, kebiasaan BAB juga perlu diperhatikan. Jangan menahan keinginan BAB, berikan waktu yang cukup dan hindari mengejan terlalu kuat. Asupan serat, cairan yang cukup, serta aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan.
NIDDK menyarankan untuk tidak mengabaikan dorongan BAB dan memberi waktu yang cukup ketika berada di toilet. Jadi, mitos atau fakta toilet jongkok lebih sehat untuk BAB?
Faktanya, posisi jongkok memang memiliki keuntungan secara mekanis karena dapat membantu meluruskan sudut anorektal dan mengurangi kebutuhan mengejan. Namun, belum tepat jika dikatakan toilet jongkok pasti lebih sehat untuk semua orang.
Toilet terbaik adalah yang memungkinkan seseorang BAB dengan nyaman, aman, tidak perlu mengejan berlebihan, serta sesuai dengan kondisi tubuhnya. Dengan kata lain, bukan sekadar jongkok atau duduk, tetapi bagaimana posisi dan kebiasaan BAB dilakukan dengan benar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....