Mengenal "Deepfake", Wajah dan Suara Buatan AI

  • 07 Okt 2026 12:09 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat wajah dan suara manusia dapat direkayasa semakin menyerupai aslinya. Teknologi tersebut dikenal sebagai deepfake.

Penggunaannya dapat membantu industri kreatif, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan digital. Deepfake merupakan teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat atau memanipulasi konten digital. Bentuknya dapat berupa foto, video, suara, maupun kombinasi beberapa jenis konten.

Pada video, AI dapat membuat wajah seseorang terlihat seperti orang lain. Teknologi serupa juga dapat digunakan untuk menghasilkan suara yang menyerupai suara manusia tertentu.

Perkembangan tersebut membuat masyarakat menghadapi tantangan baru dalam memeriksa keaslian konten digital. Dikutip dari siaran pers resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tertanggal 17 Juni 2026 Dalam acara Indonesia Ethical AI Summit, Wamen Komdigi Nezar Patria menyampaikan suara dan wajah manusia dapat ditiru AI dan muncul dalam bentuk video deepfake.

Menurutnya kemajuan AI saat ini berlangsung sangat cepat, bahkan telah melampaui fase generative AI menuju pengembangan agentic AI dan berbagai teknologi baru lainnya. Perkembangan tersebut membawa manfaat besar bagi berbagai sektor, tetapi pada saat yang sama memunculkan risiko-risiko baru yang memerlukan perhatian serius:

1. Suara yang Tidak Selalu Asli

Salah satu perkembangan yang perlu diwaspadai adalah teknologi voice cloning. Teknologi ini memungkinkan karakteristik suara seseorang ditiru menggunakan kecerdasan buatan. Penipu dapat memanfaatkan rekaman suara yang tersedia di internet. Suara tersebut kemudian dapat digunakan untuk membuat komunikasi yang seolah-olah berasal dari orang yang dikenal.

Dikutip dari situs resmi Federal Trade Commission atau FTC mengingatkan teknologi kloning suara dapat dimanfaatkan dalam penipuan. Pelaku dapat menyamar sebagai anggota keluarga atau pihak tertentu untuk meminta uang. Situasi tersebut membuat masyarakat tidak cukup hanya mengenali suara seseorang. Identitas penelepon tetap perlu diverifikasi melalui saluran komunikasi lain.

2. Mengapa Deepfake Sulit Dikenali

Kemajuan AI membuat hasil manipulasi semakin menyerupai konten asli. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan secara sekilas menjadi semakin sulit. Kesalahan pada wajah atau suara terkadang masih dapat ditemukan.

Namun, tidak semua konten buatan AI menunjukkan tanda yang mudah dikenali. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa sumber dan konteks sebelum mempercayai sebuah konten. Langkah tersebut juga penting sebelum informasi dibagikan kepada orang lain. Konten yang berisi permintaan uang atau informasi pribadi perlu mendapat perhatian lebih. Verifikasi sebaiknya dilakukan melalui nomor atau saluran komunikasi yang sudah diketahui sebelumnya.

3. Deepfake Tidak Selalu Berdampak Negatif

Deepfake tidak selalu digunakan untuk melakukan kejahatan. Teknologi sintetis juga memiliki sejumlah manfaat dalam bidang kreatif dan teknologi. Dalam kondisi tertentu, teknologi kloning suara bahkan dapat membantu orang yang kehilangan kemampuan berbicara.

FTC mencatat teknologi tersebut memiliki potensi untuk digunakan dalam kebutuhan medis. Persoalan muncul ketika teknologi digunakan untuk menyamar, menipu, atau menyebarkan informasi yang tidak benar. Karena itu, pemanfaatan AI tetap membutuhkan tanggung jawab dan pengawasan.

4. Cara Menghindari Penipuan Deepfake

Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana ketika menerima konten yang mencurigakan. Salah satunya adalah tidak langsung mempercayai pesan atau panggilan yang meminta tindakan segera. Jika menerima telepon dari seseorang yang meminta uang, lakukan verifikasi melalui nomor yang biasa digunakan.

Jangan mengandalkan nomor yang diberikan dalam percakapan tersebut. Informasi pribadi juga perlu dijaga ketika menggunakan media sosial. Foto, video, dan rekaman suara yang dibagikan secara terbuka dapat menjadi sumber data bagi berbagai teknologi AI. Selain itu, periksa informasi melalui sumber resmi atau media terpercaya. Jangan menjadikan sebuah video atau rekaman suara sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan.

5. Literasi Digital Semakin Penting

Perkembangan deepfake menunjukkan bahwa teknologi dapat mengubah cara masyarakat menilai informasi. Sesuatu yang terlihat dan terdengar nyata belum tentu merupakan rekaman asli.

Dikutip dari portal resminya, Kementerian komdigi bekerja sama dengan aparat penegak hukum terus memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan siber melalui penerapan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP), serta Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Komdigi menilai deepfake dan rekayasa sosial berbasis AI membuat penipuan semakin sulit dikenali.

Pemerintah juga mendorong penguatan keamanan digital untuk menghadapi perkembangan tersebut. Karena itu, kemampuan memeriksa informasi menjadi bagian penting dari literasi digital. Masyarakat perlu membiasakan diri berhenti sejenak sebelum mempercayai atau menyebarkan konten. AI dapat membuat wajah dan suara terlihat sangat nyata. Namun, verifikasi tetap menjadi langkah penting untuk memastikan informasi yang diterima benar dan dapat dipercaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....